Review
Sampai
di dekat pintu keluar, Karman gagap dan tertegun. Menoleh ke kanan dan ke kiri
seakan ia sedang di tonton oleh seribu pasang mata. Kertas-kertas itu di pegang
dengan hati-hati dan tangan bergetar. Karman yakin seluruh hidupnya
tergulung-gulung seperti kertas yang di pegangnya. Bahkan pada saat itu Karman
merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang digenggamnya.
Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat
mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak
terlalu kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan
lembu. Waktu berjalan ke barat sepanjang dili-dili itu Karman sebenarnya
teramat tersiksa. Merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Tatapan mata
yang berpapasan dengannya terasa sangat menyiksa. Oh, andaikan ada secuil
tempat untuk bersembunyi, mungkin Karman akan menyembunyikan diri karena
pembebasan dirinya yang belum mampu mengembalikan dia dari keterasingan.
Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu
mendapatkan tempat apa yang diinginkannya, sebuah tempat yang enak untuk duduk,
di bawah pohon beringin alun-alun Kabupaten.
Beringin besar di pojok alun-alun itu akan memayungi
wilayah kecil sepi dan sejuk. Maka siapa pun yang berada di sana bisa duduk
terkantuk dan terlelap mimpi. Tetapi Karman tidak sama sekali terpengaruh
dengan kesejukkan di pojok alun-alun itu dan pikirannya sudah lebih jauh
menerawang sampai ke kampungnya, tiga kilometer dari tempat di mana kini ia
bisa duduk. Boleh jadi pegaten, kampung halamannya, juga sudah banyak yang
berubah. Boleh jadi semuanya menjadi bertambah baik. Tetapi Karman tidak
tertarik untuk memikirkannya.
Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah
Marni. Istri atau mantan istri dua belas tahun lalu. Secara resmi Karman belum
bercerai, tetapi Marni sudah menikah dengan laki-laki lain. Parta, seorang
teman sekampungnya.
Karman teringat dengan nasihat Kapten Somad sewaktu di
pengasingan. “Mari kita mulai sekarang. Sebelum datang kematian, setiap orang akan
mengalami satu di antara ketiga cobaan; sulit mendapatkan rezeki, keehatan yang
buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Dan kurasa kau merasakan itu, jadi
mari kita mulai sekarang, memulai hidup baru..” Karman terngiang dengan nasihat
itu.
Ketika berada di pengasingan, Karman sangat gembira
mendapat sepucuk surat dari Marni. Terlihat dari raut wajahnya ia merindukan
seseorang yang dicintainya. Tetapi raut wajah bahagia itu pudar tergantikan
dengan mendung, seolah awan hitam datang dan menurunkan hujan deras. Jauh dari
pengasingan, terpisah jarak bahkan pulau. Marni mengirimkan surat cerai untuk
Karman. Marni perempuan berusia tiga puluh tahun tentu saja masih segar.
Setelah suaminya ditangkap, lalu di asingkan ke Pulau Buru, menjadi Tahanan
Politik. Laki-laki mana yang tega membiarkan perempuan secantik Marni
sendirian, di tambah dengan kebutuhan hidup untuk anak-anaknya. Dan disitulah
Marni menikah dengan Parta setelah menceraikan istrinya. Padang sangat
mengerikan, asing dan Karman merasa seorang diri. Hidupnya runtuh kehilangan
semangat. Hari demi hari Karman menjalaninya dengan penuh hampa. Di Pulau Buru
bak seperti Neraka di muka bumi tempat terakhir ia hidup di bumi.
Tiba-tiba Karman terbangun dari mimpinya. Tak terasa
sudah begitu lama ia terlelap. Melihat matahari mulai condong ke ufuk barat.
Karman bangkit, dan menyusuri jalan dari Gang ke Gang. Berjalan ke timur,
hingga sudah berputar dua kali di alun-alun. Karman masih bingung entah ke mana
ia pergi. Ia hanya menuruti langkah kakinya yang rapuh menyusuri jalan demi
jalan.
Di tengah langkah yang rapuh Karman berpapasan dengan
serombongan anak kecil. Mereka berkopiah dan berkain sarung, lucu menawan, dan
berjalan hiruk pikuk. Tanpa kesadarn penuh Karman memutar balik mengikuti
serombongan itu menuju Serambi Masjid. Tetapi Karman mendadak berhenti, gagap.
Termangu. Dua-Tiga orang melewatinya, hingga akhirnya lelaki tua menepuk
pundaknya dari belakang. “Mari pak, sudah Iqamah,”
Selesai salam, menoleh ke kanan dan ke kiri.
Masing-masing orang mulai berjabat tangan satu dengan yang lain. Karman melihat
setiap wajah dengan biasa, tetapi Karman tersentuh hatinya ketika berjabat
tangan sembari melempar senyum yang tulus. Karman terdiam sejenak, senyum dan
menjabat sepenuh hati. Hati kecil Karman terketuk, meski senyum tak apalah,
senyum tanda keramahan yang berarti bagiku. Oh, senyum, dan tetap tersenyum.
Karman melangkah keluar Serambi Masjid untuk pulang.
Pulang? kemana aku akan pulang. mungkinkah pulang ke rumah yang dahulu. Tetapi
rumah yang dulu sudah bukan lagi rumahku. Itu rumah Marni dan di sana ada
suaminya. Rasanya tidak mungkin jika pulang ke sana. Lalu kemana kah ku akan
pulang. Karman terus bertanya-tanya dalam hati.
Karman kembali duduk termangu, terasing seperti benda
langit yang jatuh ke bumi. Di perlukan waktu beberapa menit untuk menemukan apa
yang di tuju. Dan setelah itu, Karman memantapkan untuk pergi ke rumah Gono,
sepupunya yang tidak jauh dari tempat Karman berada. Melangkah dengan mantap
menuju Rumah Gono. (*)
***
Berawal geger tahun 1965, sekelompok orang yang menamai
diri mereka dengan Partai Komunis Indonesia berusaha membuat negara ini menjadi
negara revolusi. Ketika keadaan politik yang memanas, ada salah pemuda yang
menjadi tahanan politik lalu di asingkan. Belasan tahun sudah dan kini bebas,
sebebas-bebasnya. Untuk beberapa saat ia bingung akan pulang kemana. Langkah
gontai kaki semakin rapuh. Istri yang teramat dicintai telah menikah lagi
dengan laki-laki yang juga teman sekampungnya. Rumah, sawah, keluarga, dan yang
dimilikinya telah hilang termakan zaman.
Karman, terlahir dari keluarga tercukupi. Ayah seorang
mantri dapat menghidupi kebutuhannya di kala itu. namun kebahagiaan itu
terenggut sewaktu pasukan jepang menjajah. Semua kebahagiaan sirna, hingga akhirnya
Sang Ayah menjadi seorang pejuang. Dan tak pernah kembali pulang ke rumah. dan
Karman menjadi yatim. Menjadi anak yang bekerja keras, menjadi tulang punggung
keluarga hingga membuat Haji Bakir merasa iba. menjadikan Karman seorang
pekerja. Haji Bakir menyekolahkannya hingga Sekolah Dasar. Berselang dengan
Paman Hasyim pulang ke kampung. Setelah menjadi pejuang Hisbullah dan gejolak
politik yang stabil Pulang ke Pegaten. Paman Hasyim seolah bertanggung jawab
atas masa depan Karman. Dan akhirnya ia bersekolah hingga tamat SMP. Karman
ingin sekali meneruskan sekolah sampai ke jenjang tertinggi, tetapi takdir
berkata lain. Paman Hasyim tidak mampu membiyayainya. Karman berinisiatif
bekerja.
Untuk sementara waktu Karman bekerja pada Haji Bakir
sebagai supir truk. Sesekali mencari kerjaan menjadi pegawai, karena pada waktu
itu lulusan SMP masih bisa terhitung oleh jari. Datanglah Triman dan Margo,
Triman salah satu anggota partai komunis menyamar menjadi ketua partai
Partindo. Menyusup di desa Pegaten, mencari pemuda untuk dijadikan kader
anggota partai.dan Margo,menyamar sebagai guru.
Usia yang semakin matang membuat Karman ingin meminang
Rifah putri Haji Bakir. Tetapi sayang Rifah sudah dilamar oleh Abdul Rahman,
laki-laki dari kampung seberang. Karman beranggapan Haji Bakir menolak Karman
dengan beralasan Rifah telah dilamar duluan. Karman menjadi orang yang paling
membenci Haji Bakir. Di tambah lagi oleh Margo dan Triman, mencuci otak karman
dengan segala tipuannya. Kebencian Karman memuncak hingga pelan-pelan kewajiban
seorang muslim ditinggalnya.
Karman mulai kehilangan jati dirinya, Paman Hasyim baru
menyadari akan perubahan Karman. Pemuda lugu, pekerja keras, berubah menjadi
keras kepala, angkuh dan pendendam. Akibat doktrin-doktrin komunis merubah semua
kehidupan Karman.
1 oktober 1965, seluruh warga Desa Pegaten terkejut.
Situasi politk pun memanas, dari daerah ke suatu daerah anggota partai komunis
di tangkap. Dan Karman pun di tangkap juga.kemudian di asingkan ke Pulau Buru.
Dua belas tahun sudah berlalu. Kini situasi Desa Pegaten
kembali seperti sedia kala. Tetapi Karman masih di gelayuti oleh rasa bersalah
terhadap semua yang dahulu baik kepadanya, mulai dari Haji Bakir, Paman Hasyim.
Karman mengira ia tidak akan diterima setelah tragedi politik yang menyebabkan
dirinya diasingkan. Tetapi salah, semua diluar dugaan, istri yang dikira
mencampakkan begitu saja, datang menemui mantan atau suami yang belum cerai
secara sah. Ada satu hal yang tidak pernah diduga oleh Karman, yaitu Tini. Anak
perempuannya ternyata menjalin cinta dengan Jabir putra tunggal dari Syarifah,
perempuan yang dahulu akan dipinang, perempuan yang dahulu bermain bersama,
perempuan yang dilindungi oleh Karman ketika akan diseruduk oleh domba qurban
milik Haji Bakir. Karman masih tetap tidak mengira akan menjadi keluarga besar.
kebencian memuncak, hilang tergerus waktu, hingga akhirnya kebencian itu
tertutupi oleh jalinan cinta Tini dan Jabir.

No comments:
Post a Comment