Tuesday, February 4, 2014

Kubah

Review
            Sampai di dekat pintu keluar, Karman gagap dan tertegun. Menoleh ke kanan dan ke kiri seakan ia sedang di tonton oleh seribu pasang mata. Kertas-kertas itu di pegang dengan hati-hati dan tangan bergetar. Karman yakin seluruh hidupnya tergulung-gulung seperti kertas yang di pegangnya. Bahkan pada saat itu Karman merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang digenggamnya.
            Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak terlalu kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Waktu berjalan ke barat sepanjang dili-dili itu Karman sebenarnya teramat tersiksa. Merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Tatapan mata yang berpapasan dengannya terasa sangat menyiksa. Oh, andaikan ada secuil tempat untuk bersembunyi, mungkin Karman akan menyembunyikan diri karena pembebasan dirinya yang belum mampu mengembalikan dia dari keterasingan.
            Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu mendapatkan tempat apa yang diinginkannya, sebuah tempat yang enak untuk duduk, di bawah pohon beringin alun-alun Kabupaten.
            Beringin besar di pojok alun-alun itu akan memayungi wilayah kecil sepi dan sejuk. Maka siapa pun yang berada di sana bisa duduk terkantuk dan terlelap mimpi. Tetapi Karman tidak sama sekali terpengaruh dengan kesejukkan di pojok alun-alun itu dan pikirannya sudah lebih jauh menerawang sampai ke kampungnya, tiga kilometer dari tempat di mana kini ia bisa duduk. Boleh jadi pegaten, kampung halamannya, juga sudah banyak yang berubah. Boleh jadi semuanya menjadi bertambah baik. Tetapi Karman tidak tertarik untuk memikirkannya.
            Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Marni. Istri atau mantan istri dua belas tahun lalu. Secara resmi Karman belum bercerai, tetapi Marni sudah menikah dengan laki-laki lain. Parta, seorang teman sekampungnya.
            Karman teringat dengan nasihat Kapten Somad sewaktu di pengasingan. “Mari kita mulai sekarang. Sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara ketiga cobaan; sulit mendapatkan rezeki, keehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Dan kurasa kau merasakan itu, jadi mari kita mulai sekarang, memulai hidup baru..” Karman terngiang dengan nasihat itu.
            Ketika berada di pengasingan, Karman sangat gembira mendapat sepucuk surat dari Marni. Terlihat dari raut wajahnya ia merindukan seseorang yang dicintainya. Tetapi raut wajah bahagia itu pudar tergantikan dengan mendung, seolah awan hitam datang dan menurunkan hujan deras. Jauh dari pengasingan, terpisah jarak bahkan pulau. Marni mengirimkan surat cerai untuk Karman. Marni perempuan berusia tiga puluh tahun tentu saja masih segar. Setelah suaminya ditangkap, lalu di asingkan ke Pulau Buru, menjadi Tahanan Politik. Laki-laki mana yang tega membiarkan perempuan secantik Marni sendirian, di tambah dengan kebutuhan hidup untuk anak-anaknya. Dan disitulah Marni menikah dengan Parta setelah menceraikan istrinya. Padang sangat mengerikan, asing dan Karman merasa seorang diri. Hidupnya runtuh kehilangan semangat. Hari demi hari Karman menjalaninya dengan penuh hampa. Di Pulau Buru bak seperti Neraka di muka bumi tempat terakhir ia hidup di bumi.
            Tiba-tiba Karman terbangun dari mimpinya. Tak terasa sudah begitu lama ia terlelap. Melihat matahari mulai condong ke ufuk barat. Karman bangkit, dan menyusuri jalan dari Gang ke Gang. Berjalan ke timur, hingga sudah berputar dua kali di alun-alun. Karman masih bingung entah ke mana ia pergi. Ia hanya menuruti langkah kakinya yang rapuh menyusuri jalan demi jalan.
            Di tengah langkah yang rapuh Karman berpapasan dengan serombongan anak kecil. Mereka berkopiah dan berkain sarung, lucu menawan, dan berjalan hiruk pikuk. Tanpa kesadarn penuh Karman memutar balik mengikuti serombongan itu menuju Serambi Masjid. Tetapi Karman mendadak berhenti, gagap. Termangu. Dua-Tiga orang melewatinya, hingga akhirnya lelaki tua menepuk pundaknya dari belakang. “Mari pak, sudah Iqamah,”
            Selesai salam, menoleh ke kanan dan ke kiri. Masing-masing orang mulai berjabat tangan satu dengan yang lain. Karman melihat setiap wajah dengan biasa, tetapi Karman tersentuh hatinya ketika berjabat tangan sembari melempar senyum yang tulus. Karman terdiam sejenak, senyum dan menjabat sepenuh hati. Hati kecil Karman terketuk, meski senyum tak apalah, senyum tanda keramahan yang berarti bagiku. Oh, senyum, dan tetap tersenyum.
            Karman melangkah keluar Serambi Masjid untuk pulang. Pulang? kemana aku akan pulang. mungkinkah pulang ke rumah yang dahulu. Tetapi rumah yang dulu sudah bukan lagi rumahku. Itu rumah Marni dan di sana ada suaminya. Rasanya tidak mungkin jika pulang ke sana. Lalu kemana kah ku akan pulang. Karman terus bertanya-tanya dalam hati.
            Karman kembali duduk termangu, terasing seperti benda langit yang jatuh ke bumi. Di perlukan waktu beberapa menit untuk menemukan apa yang di tuju. Dan setelah itu, Karman memantapkan untuk pergi ke rumah Gono, sepupunya yang tidak jauh dari tempat Karman berada. Melangkah dengan mantap menuju Rumah Gono. (*)
                                                                        ***
            Berawal geger tahun 1965, sekelompok orang yang menamai diri mereka dengan Partai Komunis Indonesia berusaha membuat negara ini menjadi negara revolusi. Ketika keadaan politik yang memanas, ada salah pemuda yang menjadi tahanan politik lalu di asingkan. Belasan tahun sudah dan kini bebas, sebebas-bebasnya. Untuk beberapa saat ia bingung akan pulang kemana. Langkah gontai kaki semakin rapuh. Istri yang teramat dicintai telah menikah lagi dengan laki-laki yang juga teman sekampungnya. Rumah, sawah, keluarga, dan yang dimilikinya telah hilang termakan zaman.
            Karman, terlahir dari keluarga tercukupi. Ayah seorang mantri dapat menghidupi kebutuhannya di kala itu. namun kebahagiaan itu terenggut sewaktu pasukan jepang menjajah. Semua kebahagiaan sirna, hingga akhirnya Sang Ayah menjadi seorang pejuang. Dan tak pernah kembali pulang ke rumah. dan Karman menjadi yatim. Menjadi anak yang bekerja keras, menjadi tulang punggung keluarga hingga membuat Haji Bakir merasa iba. menjadikan Karman seorang pekerja. Haji Bakir menyekolahkannya hingga Sekolah Dasar. Berselang dengan Paman Hasyim pulang ke kampung. Setelah menjadi pejuang Hisbullah dan gejolak politik yang stabil Pulang ke Pegaten. Paman Hasyim seolah bertanggung jawab atas masa depan Karman. Dan akhirnya ia bersekolah hingga tamat SMP. Karman ingin sekali meneruskan sekolah sampai ke jenjang tertinggi, tetapi takdir berkata lain. Paman Hasyim tidak mampu membiyayainya. Karman berinisiatif bekerja.
            Untuk sementara waktu Karman bekerja pada Haji Bakir sebagai supir truk. Sesekali mencari kerjaan menjadi pegawai, karena pada waktu itu lulusan SMP masih bisa terhitung oleh jari. Datanglah Triman dan Margo, Triman salah satu anggota partai komunis menyamar menjadi ketua partai Partindo. Menyusup di desa Pegaten, mencari pemuda untuk dijadikan kader anggota partai.dan Margo,menyamar sebagai guru.
            Usia yang semakin matang membuat Karman ingin meminang Rifah putri Haji Bakir. Tetapi sayang Rifah sudah dilamar oleh Abdul Rahman, laki-laki dari kampung seberang. Karman beranggapan Haji Bakir menolak Karman dengan beralasan Rifah telah dilamar duluan. Karman menjadi orang yang paling membenci Haji Bakir. Di tambah lagi oleh Margo dan Triman, mencuci otak karman dengan segala tipuannya. Kebencian Karman memuncak hingga pelan-pelan kewajiban seorang muslim ditinggalnya.
            Karman mulai kehilangan jati dirinya, Paman Hasyim baru menyadari akan perubahan Karman. Pemuda lugu, pekerja keras, berubah menjadi keras kepala, angkuh dan pendendam. Akibat doktrin-doktrin komunis merubah semua kehidupan Karman.
            1 oktober 1965, seluruh warga Desa Pegaten terkejut. Situasi politk pun memanas, dari daerah ke suatu daerah anggota partai komunis di tangkap. Dan Karman pun di tangkap juga.kemudian di asingkan ke Pulau Buru.

            Dua belas tahun sudah berlalu. Kini situasi Desa Pegaten kembali seperti sedia kala. Tetapi Karman masih di gelayuti oleh rasa bersalah terhadap semua yang dahulu baik kepadanya, mulai dari Haji Bakir, Paman Hasyim. Karman mengira ia tidak akan diterima setelah tragedi politik yang menyebabkan dirinya diasingkan. Tetapi salah, semua diluar dugaan, istri yang dikira mencampakkan begitu saja, datang menemui mantan atau suami yang belum cerai secara sah. Ada satu hal yang tidak pernah diduga oleh Karman, yaitu Tini. Anak perempuannya ternyata menjalin cinta dengan Jabir putra tunggal dari Syarifah, perempuan yang dahulu akan dipinang, perempuan yang dahulu bermain bersama, perempuan yang dilindungi oleh Karman ketika akan diseruduk oleh domba qurban milik Haji Bakir. Karman masih tetap tidak mengira akan menjadi keluarga besar. kebencian memuncak, hilang tergerus waktu, hingga akhirnya kebencian itu tertutupi oleh jalinan cinta Tini dan Jabir.





No comments:

Post a Comment