Wednesday, February 12, 2014

Perjalanan Dalam Sunyi


Malam bergeming, kesenyapan menghantarkan tiap orang semakin terlelap. Terhanyut kesunyian dan tenggelam dalam semudera mimpi. Tapi meski jarum jam terus bergerak, menunjuk waktu semakin pagi. Ada mata yang belum terpejam, dan menemukan ketenangan dalam hening.

Di sudut kamar, di ruang enam kali tujuh meter itu ada seseorang yang duduk terpaku. Di depan meja belajar, berhadapan dengan sebuah buku. Meski orang lain terlelap, berbeda dengan orang itu. Melewati malam berganti siang, dan malam lagi. Ia tidak pernah tidur di malam hari, bahkan di siang hari pun ia hanya tidur dua jam saja selepas itu tidak tidur lagi hingga malam tiba. Entah di mulai sejak kapan ia begadang, tetapi semenjak kejadian itu ia tidak pernah tidur.

            Di depan wajahnya ada sebuah buku, matanya sesekali menyipit membaca isi buku itu. Dan sesekali ia tersenyum sembari mengangguk pelan. Semakin dalam ia terhanyut dalam buku itu, semakin ia menikmati kesunyian malam. Cantik Itu Luka sebuah judul yang tergenggam di tangannya, novel karangan Eka Kurniawan tertulis di buku itu. Semakin lama semakin terhanyut, bahkan ia seperti menikmati sebuah perjalanan wisata.

Sesudah membaca novel itu ia menutup dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Menatap langit-langit ruang. Tersenyum tipis merasa puas sehabis menikmati sebuah kisah. Otaknya mencoba menerawang. Kisah seorang perempuan yang telah dua puluh tahun dimakamkan, bangkit dari kuburannya seperti terbangun dari tidur. Dewi Ayu. Perempuan paling cantik di pulau Halimunda di paksa menjadi seorang pelacur di masa kolonial. Terlahir dari keluarga bangsawan. Ibu dan ayahnya adalah seorang belanda dan juga kakak beradik. Cinta yang sudah semakin karat di kedua hati mereka memaksa untuk melanjutkan hubungan itu. meski satu darah, kedua orang itu tetap tidak perduli. Akhirnya selepas Dewi Ayu lahir. Ayah dan ibunya tidak mengurusnya, melainkan meletakkan Dewi ayu di depan pintu rumah kakeknya. Ibu dan ayahnya pergi tanpa alasan, mereka meninggalkan Dewi Ayu begitu saja.

Dewi Ayu semakin tumbuh dewasa dan cantik. Waktu itu di masa kolonial, belanda terdesak perang dan kalah oleh jepang. Halimunda pun diduduki tentara jepang. Semua orang belanda menjadi tahanan perang. Ketika Dewi Ayu ingin pergi bersama semua orang belanda, ia menolaknya. Dewi Ayu beralasan bahwa ia adalah orang pribumi, buka orang belanda. Jika tentara jepang menangkapnya ia berpikir tidak akan di jadikan tahanan, paling hanya di jadikan gundik. Setelah melewati masa itu akhirnya Dewi Ayu pun dipaksa menjadi seorang pelacur. Melayani nafsu birahi tentara jepang. Melahirkan tiga orang putri, yang entah tidak diketahui siapa bapaknya. Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Ketiga anak perempuan ini semakin tumbuh seiring waktu berjalan. Dan kecantikkan tiga anak itu sama dengan kecantikan ibunya. Dewi Ayu merasa ada penyesalan melahirkan anak perempuan yang cantik, hingga ia bersumpah jikalau Dewi Ayu melahirkan anak perempuan ia berharap anak itu buruk rupa. Dan benar saja, ketika anak keempat Dewi Ayu lahir langsung menamakan Cantik. Anak itu nampak buruk rupa, orang lain saja jika melihatnya merasa takut. Bahkan tetangganya pun jika mendapati anak mereka bandel, mereka akan berkata “Kalau kamu bandel, kamu akan di makan sama si Cantik,” Meskipun ia bernama Cantik tapi wajahnya buruk rupa. Cantik Itu Luka merupakan bentuk permisivitas Dewi Ayu dari gambaran sebuah pemahaman chaos. Melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bungkus perempuan. Dan sebagai bentuk pemberontakan mainstream umum.

Ketika sedang menyelami cerita itu, Laki-laki itu tersentak dari tempat duduknya. Melihat jam dinding tepat pukul setengah lima. Adzan subuh lamat-lamat terdengar dari berbagai tempat. Sahut menyahut dari tempat satu ke yang lain. Lantas ia bangkit dan pergi untuk melaksanakan kewajibannya. Selepas Shalat, ketika orang lain terbangun dari mimpinya, ia berbeda malah beranjak tidur. Masuk ke dalam mimpi untuk sementara waktu. Beristirahat dan terbangun untuk melanjutkan aktifitas di siang hari.(*)


No comments:

Post a Comment