Malam
bergeming, kesenyapan menghantarkan tiap orang semakin terlelap. Terhanyut kesunyian
dan tenggelam dalam semudera mimpi. Tapi meski jarum jam terus bergerak,
menunjuk waktu semakin pagi. Ada mata yang belum terpejam, dan menemukan
ketenangan dalam hening.
Di
sudut kamar, di ruang enam kali tujuh meter itu ada seseorang yang duduk
terpaku. Di depan meja belajar, berhadapan dengan sebuah buku. Meski orang lain
terlelap, berbeda dengan orang itu. Melewati malam berganti siang, dan malam
lagi. Ia tidak pernah tidur di malam hari, bahkan di siang hari pun ia hanya
tidur dua jam saja selepas itu tidak tidur lagi hingga malam tiba. Entah di
mulai sejak kapan ia begadang, tetapi semenjak kejadian itu ia tidak pernah
tidur.
Di depan wajahnya ada sebuah buku,
matanya sesekali menyipit membaca isi buku itu. Dan sesekali ia tersenyum
sembari mengangguk pelan. Semakin dalam ia terhanyut dalam buku itu, semakin ia
menikmati kesunyian malam. Cantik Itu
Luka sebuah judul yang tergenggam di tangannya, novel karangan Eka
Kurniawan tertulis di buku itu. Semakin lama semakin terhanyut, bahkan ia
seperti menikmati sebuah perjalanan wisata.
Sesudah
membaca novel itu ia menutup dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Menatap langit-langit
ruang. Tersenyum tipis merasa puas sehabis menikmati sebuah kisah. Otaknya mencoba
menerawang. Kisah seorang perempuan yang telah dua puluh tahun dimakamkan,
bangkit dari kuburannya seperti terbangun dari tidur. Dewi Ayu. Perempuan
paling cantik di pulau Halimunda di paksa menjadi seorang pelacur di masa
kolonial. Terlahir dari keluarga bangsawan. Ibu dan ayahnya adalah seorang
belanda dan juga kakak beradik. Cinta yang sudah semakin karat di kedua hati
mereka memaksa untuk melanjutkan hubungan itu. meski satu darah, kedua orang
itu tetap tidak perduli. Akhirnya selepas Dewi Ayu lahir. Ayah dan ibunya tidak
mengurusnya, melainkan meletakkan Dewi ayu di depan pintu rumah kakeknya. Ibu
dan ayahnya pergi tanpa alasan, mereka meninggalkan Dewi Ayu begitu saja.
Dewi
Ayu semakin tumbuh dewasa dan cantik. Waktu itu di masa kolonial, belanda
terdesak perang dan kalah oleh jepang. Halimunda pun diduduki tentara jepang. Semua
orang belanda menjadi tahanan perang. Ketika Dewi Ayu ingin pergi bersama semua
orang belanda, ia menolaknya. Dewi Ayu beralasan bahwa ia adalah orang pribumi,
buka orang belanda. Jika tentara jepang menangkapnya ia berpikir tidak akan di
jadikan tahanan, paling hanya di jadikan gundik. Setelah melewati masa itu
akhirnya Dewi Ayu pun dipaksa menjadi seorang pelacur. Melayani nafsu birahi
tentara jepang. Melahirkan tiga orang putri, yang entah tidak diketahui siapa
bapaknya. Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Ketiga anak perempuan ini semakin
tumbuh seiring waktu berjalan. Dan kecantikkan tiga anak itu sama dengan
kecantikan ibunya. Dewi Ayu merasa ada penyesalan melahirkan anak perempuan
yang cantik, hingga ia bersumpah jikalau Dewi Ayu melahirkan anak perempuan ia
berharap anak itu buruk rupa. Dan benar saja, ketika anak keempat Dewi Ayu
lahir langsung menamakan Cantik. Anak itu nampak buruk rupa, orang lain saja
jika melihatnya merasa takut. Bahkan tetangganya pun jika mendapati anak mereka
bandel, mereka akan berkata “Kalau kamu bandel, kamu akan di makan sama si
Cantik,” Meskipun ia bernama Cantik tapi wajahnya buruk rupa. Cantik Itu Luka merupakan bentuk
permisivitas Dewi Ayu dari gambaran sebuah pemahaman chaos. Melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam
dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bungkus perempuan. Dan sebagai bentuk
pemberontakan mainstream umum.

No comments:
Post a Comment