Mu’tazilah
Kaum Mu’tazilah adalah suatu kaum yang membuat heboh
dunia islam selama 300 tahun pada abad-abad permulaan islam. Kaum Mu’tazilah
pernah dalam sejarahnya membunuh ulama Islam, diantaranya ulama Islam yang
terkenal Syeikh Buwaithi, imam pengganti Imam Syafi’i, dalam suatu peristiwa
yang dinamai “Peristiwa Qur’an mahkluk”
Paham Mu’tzailah sampai sekarang (tahun 1378 H atau tahun
1967 M) masih menyusup ke dalam masyarakat ummat islam di barat dan di timur
bahkan sampai ke Indonesia. oleh karena itu, sudah selayaknya kalau paham Mu’tazilah
ini mendapat sorotan yang sedalam-dalamnya dan analisa yang sebaik-baiknya,
supaya umat Islam yang baik tidak terperosok ke dalam i’itiqadnya yang sesat
lagi menyesatkan.
Historis
kaum Mu’tazilah
Perkataan “Mu’tazilah”
berasal dari kata “Pitizal”, artinya menyisihkan diri. Kaum Mu’tazilah berarti
kaum yang menyisihkan diri.
Ada seorang guru besar di Bagdad, namanya Syeikh Hasan
Bashri (meninggal tahun 110 H). Di antara musirdnya ada seorang yang bernama Washil Bin Atha (meninggal 131 H). Pada suatu
hari Imam Hasan Bashri menerangkan bahwa orang islam yang telah iman pada Allah
dan Rasulnya, tetapi ia kebetulan mengerjakan dosa besar, maka orag itu tetap
muslim, tetapi menjadi muslim yang durhaka. Di akhirat nanti, kalau ia wafat
sebelum dosanya, neraka buat sementara untuk menerima hukuman atas dosanya,
sesudah menjalankan hukuman ia akan di masukkan ke dalam surga. Sebagai Mu’min
dan Muslim.
Wasil Bin Atha tidak sesuai dengan pendapat gurunya itu,
lantas ia membentak, lalu keluar dari majelis gurunya dan mendirikan majelis
sendiri di suatu pojok di Basrah. Dalam mengasingkan diri ini ia diikuti oleh
seorang kawannya Umar Bin Ubeid (meninggal 145 H). (I’itiqad
Ahlussunnah Wal Jama’ah ‘Kh Sirajuddin Abbas’ hal 191)
Ciri-ciri
Mu’tazilah dari kaum Mu’tazilah adalah suka berdebat. Terutama di hadapan umum.
Barang siapa, yang berlainan dengan pendapatnya lantas di adu dengan
perdebatan. Diajaknya bertanding dihadapan umum. Hampir 200 ratus tahun dunia
islam digoncangkan oleh perdebatan dari kaum Mu’tazilah dengan tujuan untuk
mengalahkan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Melihat keadaan kaum Mutazilah yang suka
berdebat, maka Imam Abu Hasan al Asyari, Imam Ahlussunnah terpaksa meladeni
kaum Mu’tazilah dengan lisan dan tulisan. Ciri-ciri umum dari kaum Mu’tazilah
adalah baik dan buruk ditentukan oleh akal, yaitu bahwa baik dan buruk
ditentukan oleh akal. Mana yang baik kata akal baiklah dia, mana yang buruk
kata akal, buruklah ia.

No comments:
Post a Comment