Sesampainya di rumah
Arendi langsung masuk kamar. Merebahkan badan di atas kasur menatap
langit-langit. Melamun dengan tatapan kosong, dadanya serasa sesak, ada kecamuk
hebat di dalam dadanya. Merebah, dan ditindih batu besar. Sesak hingga
pikirannya melambung ke atas awan. Ia masih memikirkan nasihat-nasihat dari
Mbah Syamsul. Entah mengapa ia merasa tidak bisa untuk berpaling dari perempuan
itu. perempuan yang selama ini membuatnya begitu berarti, merasakan nafas keindahan
arti sebuah cinta.
Tatapannya beralih
menuju rak buku di sudut kamar, memandang satu persatu tumpukkan buku berbaris
terjajar rapi. Pandangan itu terhenti ketika melihat sebuah buku. Belajar Bahasa Inggris, dadanya semakin
terasa berdesir tubuhnya bergetar. Perasaan itu masih saja muncul, dan ia
teringat akan kenangan bersama perempuan itu. tiba-tiba saja pikirannya mampir
ke sebuah rumah kenangan. Teringat akan petang menjelang malam, makan kebab
bersama, mengikuti seminar, mengantarnya mendaftar di sebuah universitas, dan
masih banyak foto-foto dalam rumah kenangan yang terpampang. Dan senyum
ramahnya terbayang di pelupuk mata. Tersenyum ramah, suaranya yang lembut. Ah!
Ku tidak bisa melupakan itu, sejujurnya ku tidak bisa menghilangkan perasaan
itu. ku tidak bisa menghilangkan senyum ramahnya, suaranya, dan sosok itu yang
masih terus menari-nari indah dalam kenangan. Seandainya saja, ada satu
kesempatan untuk mengulangnya, memulai menjadi yang baru. Tetapi apakah itu
mungkin, apakah ia masih merasakan perasaan itu? mudah-mudahan saja masih,
mudah-mudahan saja ia masih mau. Tetapi apakah mungkin, masihkah?. Arendi
semakin bertanya-tanya. Perdebatan hebat terjadi pada dirinya. Hati dan akal
saling menghujat satu sama lain.
“Sudahlah, dekati ia lagi, datangilah ia dengan lambut,
pasti ia akan membuka hatinya untukmu.” Hati membujuk.
“Arendi, Loe kan cowok, seharusnya berpikir BEGO! Dia itu
udah nyakitin perasaan Loe, masih banyak kok yang lain!”
Semakin berdebat
semakin membuatnya gusar. Arendi bingung harus memilih antara akal atau hati.
Melirik jam di tangan kanannya, jarum jam tepat pada pukul dua pagi. Ingin
tidur tak bisa, mata terpejam raga gelisah. Bergegas ke luar kamar, lalu
meenghadap kepada yang kuasa. Meminta petunjuk atas semua kegelisahannya.
Setelah selesai, Arendi masih terpaku pada tempatnya. Menunduk, merenung tak
ada kekuatan sedikitpn untuk bangkit. Dan menutupnya dengan bersujud,
memanjatkan doa yang terselip sebuah nama.

No comments:
Post a Comment