Monday, February 3, 2014

Dusta di balik wajah manis part 1



Sesampainya di rumah Arendi langsung masuk kamar. Merebahkan badan di atas kasur menatap langit-langit. Melamun dengan tatapan kosong, dadanya serasa sesak, ada kecamuk hebat di dalam dadanya. Merebah, dan ditindih batu besar. Sesak hingga pikirannya melambung ke atas awan. Ia masih memikirkan nasihat-nasihat dari Mbah Syamsul. Entah mengapa ia merasa tidak bisa untuk berpaling dari perempuan itu. perempuan yang selama ini membuatnya begitu berarti, merasakan nafas keindahan arti sebuah cinta.
Tatapannya beralih menuju rak buku di sudut kamar, memandang satu persatu tumpukkan buku berbaris terjajar rapi. Pandangan itu terhenti ketika melihat sebuah buku. Belajar Bahasa Inggris, dadanya semakin terasa berdesir tubuhnya bergetar. Perasaan itu masih saja muncul, dan ia teringat akan kenangan bersama perempuan itu. tiba-tiba saja pikirannya mampir ke sebuah rumah kenangan. Teringat akan petang menjelang malam, makan kebab bersama, mengikuti seminar, mengantarnya mendaftar di sebuah universitas, dan masih banyak foto-foto dalam rumah kenangan yang terpampang. Dan senyum ramahnya terbayang di pelupuk mata. Tersenyum ramah, suaranya yang lembut. Ah! Ku tidak bisa melupakan itu, sejujurnya ku tidak bisa menghilangkan perasaan itu. ku tidak bisa menghilangkan senyum ramahnya, suaranya, dan sosok itu yang masih terus menari-nari indah dalam kenangan. Seandainya saja, ada satu kesempatan untuk mengulangnya, memulai menjadi yang baru. Tetapi apakah itu mungkin, apakah ia masih merasakan perasaan itu? mudah-mudahan saja masih, mudah-mudahan saja ia masih mau. Tetapi apakah mungkin, masihkah?. Arendi semakin bertanya-tanya. Perdebatan hebat terjadi pada dirinya. Hati dan akal saling menghujat satu sama lain.
            “Sudahlah, dekati ia lagi, datangilah ia dengan lambut, pasti ia akan membuka hatinya untukmu.” Hati membujuk.
            “Arendi, Loe kan cowok, seharusnya berpikir BEGO! Dia itu udah nyakitin perasaan Loe, masih banyak kok yang lain!”
Semakin berdebat semakin membuatnya gusar. Arendi bingung harus memilih antara akal atau hati. Melirik jam di tangan kanannya, jarum jam tepat pada pukul dua pagi. Ingin tidur tak bisa, mata terpejam raga gelisah. Bergegas ke luar kamar, lalu meenghadap kepada yang kuasa. Meminta petunjuk atas semua kegelisahannya. Setelah selesai, Arendi masih terpaku pada tempatnya. Menunduk, merenung tak ada kekuatan sedikitpn untuk bangkit. Dan menutupnya dengan bersujud, memanjatkan doa yang terselip sebuah nama. 


No comments:

Post a Comment