Agus Noor '20 cerpen terbaik'
MOBIL
jemputan dari sekolah belum lagi berhenti. Beningya langsung melompat
menghambur. “Hati-hati!” teriak supir.
Tapi gadis kecil itu malah
mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia segera ingin
membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari mama telah tiba. Dikelas, tadi, ia
sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos dari mama kali ini?
Hingga ibu guru menegurnya akibat melamun terus-terusan.
Beningnya tertegun, mendapati kotak
itu kosong. Ia melongok, barang kali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi
memang tak ada. Apa mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin
bi sari telah mengambilnya! Beningnya langsung berlari memanggil berteriak,
“Biiikkk....., Bibiiikk”
Ia nyaris kepeleset dan menabrak
pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai terkaget melihat. Beningnya
terengah-engah berlari begitu.
“Ada apa, Non?”
“Kartu posnya udah diambil Bibik,
ya?”
Tongkat pel yang dipegannya hampir
terlepas, dan bik sari terasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa?
Bik sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah
menebak, karena Ia terus diam saja. Sungguh, Ia selalu tak tahan melihat mata
yang kecewa itu.
***
MARWAN
hanya diam melihat diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi.
“sekarang, setiap pulang, beningnya
selalu tanya kartu pos...”
Suara
pembantunya terdengar serba salah, “ saya ndak tahu mesti jawab apa...”
Memang, tak gampang menjelaskan
semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu
berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya,
“kok
kartu pos mama, belum datang ya, Pa?”
“mungkin pak posnya lagi sakit, jadi
belum sempat nganter kemari..”
Lalu Ia mengelus lembut anaknya. Ia
tak menyangka, betapa kartu pos ini akan membuatnya mengarang-ngarang jawaban.
Pekerjaan Ren membuantya sering
bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota yang disinggahi, Ia selalu
mengrimkan kartu pos kepada beningnya. Marwan kadang meledek istrinya, “Hari
gini masih pake kartu pos?” karna Ren sesungguhnya bisa menelpon atau mengirim
SMS. Meski baru playgroup, beningnya sudah pegang hape. Sekolah memang
mengharuskan setiap muridnya mempunyai handphone agar bisa dicek sewaktu-waktu,
terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
“kau memang belum pernah merasakan
bahagianya mendapat kartu pos...”
Marwan lagi menggoda bila Ren
menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya Marwan tak pernah mendapat kartu pos.
Bahkan, rasanya ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat
SMP, banyak temannya yang mempunyai sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik
majalah. Mereka akan berteriak senang bila mendapat surat balasan atau kartu
pos, dan memamerkannya dengan membaca keras-keras. Karena iri Marwan pernah
diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lalu mengeposkannya. Ia pun
berusaha tampak gembira jika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering mendapatkan
kartu pos dari ayahnya yang pelaut. “setiap menerima kartu pos darinya, aku
selalu merasa ayahku dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada
dalam kartu pos itu...” ujar Ren.
Marwan ingat, ketika Ren bercerita,
dengan suara penuh kenangan, “aku selalu mengeluarkankartu pos itu, setiap Ayah
pulang.”
Ren kecil duduk di pangkuan,
sementara ayahnya berkisah keindahan kota-kota yang tergambar pada kartu yang
mereka pandangi. “itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya ayah
seorang pelaut.”
Ren merawat kartu pos itu seperti
merawat kenangan. “mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya
kebahagiaan yang aku rasakan...”
Tak ingin terbantahkan, Marwan diam.
Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah
pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru
sampai tiga hari kemudian!
Ketukan di pintu membuat Marwan
bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak
kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos
dari ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11:20.
“enggak bisa tidur, ya? Mo tidur
dikamar Papa?”
Marwan menggandeng anaknya masuk.
“besok papa bisa anter beningnya
enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
“nganter kemana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
“Ke mana?”
“ke rumah Pak Pos..”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di
dadanya.
“Kalu
emang Pak Posnya sakit biar besok beningya aja yang kerumahnya, ngambil
kartu pos dari mama.”
Marwan hanya diam, bahkan ketika
anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba
menarik perhatian Beningnya dengan memutarkan DVD pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi beningnya terus sibuk memandangi
gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung
melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning
keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht
tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar di dinding goa. Bukit
karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos.
Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang begitu
terobsesi pada senja dan inigin memotongnya menjadi kartu pos menjadi pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan
dikisahkannya gambar-gambar itu hingga beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia
mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
“Bilang saja mamanya pergi...” kata
Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama.
Marwan masih mengantuk karena baru
tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya tertidur pulas.
“bagaimana kalau ia malah terus
bertanya, kapan pulangnya?”
“Ya sudah, kamu jelaskan saja
pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung,
dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberikan isyarat
agar melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang
dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita . . .
“Atau kamu bisa saja tulis kartu pos
buat dia. Seolah-olah itu dari Ren...”
Marwan tersenyum. Merasa lucu karena
ingat kisah masal lalu-nya.
Mobil jemputan belum lagi berhenti
ketika Marwan melihat beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir
yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di
pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat.
Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos.
“wah udah datang yah kartu posnya?”
Marwan melihat mata beningnya
berkaca-kaca.
“ini bukan kartu pos dari mama!”
Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama..”
Marwan tak berani menatap mata
anaknya, ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi
anaknya saja tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi
bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah
bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat
Mamanya terakhit kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia lebih
terus-terusan menangis karena merasa kehilangan. Tetapi jauh lebih mudah
menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat
Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Ketukan gugup di pintu membuat
Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
“ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari
yang pucat.
“beningnya...”
Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari.
Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah
pintu yang bukan cahaya lampu. Cahay keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang
cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai
merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin
menggenangi di lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
“Beningnya! Beningnya!” Marwan
segera menggedor pintu yang entah mengapa sulit untuk di buka. Ia melihat ada
asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya
tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga telah terjadi kebakaran dan
makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari
ikut berteriak memanggil.
“Buka Beningnya! Cepat Buka!”
Entahlah berapa lama ia menggedor,
ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka.
Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya.
Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos
yang berserakan.
“tadi Mama datang,” pelan Beningnya
bicara. “kata Mama tukang posnya emang
sakit, jadi mama mesti nganter kartu
posnya sendiri...”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan
mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan
mengamati kain itu. Kain kafan yang teiannya kecokelatan bagai bekas terbakar.
(*)
No comments:
Post a Comment