Sunday, February 2, 2014

Kartu pos dari surga


Agus Noor '20 cerpen terbaik'
MOBIL jemputan dari sekolah belum lagi berhenti. Beningya langsung melompat menghambur. “Hati-hati!” teriak supir.
            Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia segera ingin membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari mama telah tiba. Dikelas, tadi, ia sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos dari mama kali ini? Hingga ibu guru menegurnya akibat melamun terus-terusan.
            Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barang kali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin bi sari telah mengambilnya! Beningnya langsung berlari memanggil berteriak, “Biiikkk....., Bibiiikk”
            Ia nyaris kepeleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai terkaget melihat. Beningnya terengah-engah berlari begitu.
            “Ada apa, Non?”
            “Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”
            Tongkat pel yang dipegannya hampir terlepas, dan bik sari terasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karena Ia terus diam saja. Sungguh, Ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.
***
MARWAN hanya diam melihat diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi.
            “sekarang, setiap pulang, beningnya selalu tanya kartu pos...”
Suara pembantunya terdengar serba salah, “ saya ndak tahu mesti jawab apa...”
            Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya,
“kok kartu pos mama, belum datang ya, Pa?”
            “mungkin pak posnya lagi sakit, jadi belum sempat nganter kemari..”
            Lalu Ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa kartu pos ini akan membuatnya mengarang-ngarang jawaban.
            Pekerjaan Ren membuantya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota yang disinggahi, Ia selalu mengrimkan kartu pos kepada beningnya. Marwan kadang meledek istrinya, “Hari gini masih pake kartu pos?” karna Ren sesungguhnya bisa menelpon atau mengirim SMS. Meski baru playgroup, beningnya sudah pegang hape. Sekolah memang mengharuskan setiap muridnya mempunyai handphone agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
            “kau memang belum pernah merasakan bahagianya mendapat kartu pos...”
            Marwan lagi menggoda bila Ren menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya Marwan tak pernah mendapat kartu pos. Bahkan, rasanya ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang mempunyai sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila mendapat surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membaca keras-keras. Karena iri Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lalu mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira jika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
            Ren sejak kanak sering mendapatkan kartu pos dari ayahnya yang pelaut. “setiap menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu...” ujar Ren.
            Marwan ingat, ketika Ren bercerita, dengan suara penuh kenangan, “aku selalu mengeluarkankartu pos itu, setiap Ayah pulang.”
            Ren kecil duduk di pangkuan, sementara ayahnya berkisah keindahan kota-kota yang tergambar pada kartu yang mereka pandangi. “itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya ayah seorang pelaut.”
            Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan...”
            Tak ingin terbantahkan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!
            Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11:20.
            “enggak bisa tidur, ya? Mo tidur dikamar Papa?”
            Marwan menggandeng anaknya masuk.
            “besok papa bisa anter beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
            “nganter kemana? Pizza Hut?”
            Beningnya menggeleng.
            “Ke mana?”
            “ke rumah Pak Pos..”
            Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.
            Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok beningya aja yang kerumahnya, ngambil kartu pos dari mama.”
            Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutarkan DVD pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar di dinding goa. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang begitu terobsesi pada senja dan inigin memotongnya menjadi kartu pos menjadi pacarnya.
            Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar itu hingga beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
            “Bilang saja mamanya pergi...” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama.
            Marwan masih mengantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya tertidur pulas.
            “bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
            “Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
            Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberikan isyarat agar melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita . . .
            “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Seolah-olah itu dari Ren...”
            Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masal lalu-nya.
            Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat. Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos.
            “wah udah datang yah kartu posnya?”
            Marwan melihat mata beningnya berkaca-kaca.
            “ini bukan kartu pos dari mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama..”
            Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhit kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia lebih terus-terusan menangis karena merasa kehilangan. Tetapi jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
            Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
            “ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.
            “beningnya...”
            Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahay keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi di lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
            “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu yang entah mengapa sulit untuk di buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga telah terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
            “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.
            “Buka Beningnya! Cepat Buka!”
            Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang berserakan.
            “tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi mama mesti nganter kartu posnya sendiri...”
            Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang teiannya kecokelatan bagai bekas terbakar. (*)

No comments:

Post a Comment