Lantunan ayat suci menggetarkan jiwa
bergema dari setiap sudut. Sebersik cahaya perlahan naik dari ufuk timur.
Beberepa santri terkadang menganggut pelan. Rasa kantuk menggelayuti setiap
tubuh. Memaksa setiap orang terhanyut dengan syahdunya suasana pagi hari. Jika
serasa di rumah pukul lima pagi masih terlelap, beda halnya di pesantren.
setiap santri di tuntut bangun lebih awal, ketika sedang terlelap, ia dipaksa
untuk bangun melaksanakan tahajud, kegiatan rutin setiap hari, di lanjut dengan
jama’ah subuh, lalu di iisi dengan membaca Al-Qur’an, atau menghafal untuk di
setorkan kepada setiap instruktur.
Di
sudut mushola, terdapat seorang pemuda bertubuh gempal, berambut lurus, dan
wajah bulat seperti bakpao. Roni, pemuda berasal dari bogor, tetapi selalu
mengaku-ngaku keturunan padang. Terlahir dari keluarga yang sederhana tetapi
penuh cinta dan kasih dari kedua orang tuanya , tetapi berbeda dengan
kenyataannya. Ia sudah diasingkan di sebuah pondok pesantren selepas lulus
sekolah dasar. Pemuda yang nyantri, begitu tekun dalam menghafal Al-Qur’an.
Bahkan sebegitu tekunnya, ia sampai hafal Surah Al Baqaroh dalam waktu dua
hari. Bener enggak yaaa..
Pemuda ini begitu berambisi
menghafal al qur’an dan bercita-cita menjadi seorang hafidz. Tak jarang, di
sela-sela waktu berkumpul dengan teman-temannya ia begitu terobsesi dengan
ustadz-ustadz ternama di beberapa stasiun televisi. Saking terobsesinya logat
bicaranya saja hampir dimirip-miripkan sengan Kh Zainuddin Mz. Ia sudah
menetapkan sebuah rencana selepas lulus nanti ia akan kuliah di PTIQ JAKARTA,
sebuah universitas yang menjadi favorit bagi sebagian santri PP UQ. Bacild,
sapaan akrab roni, begitu rajin dan disiplin hingga menjadi teladan bagi
seluruh santri PP UQ sebenernya mah lebih
dari itu sampe-sampe jama’ah berbasi di shaf paling depan mengalahkan imam
.
Enam tahun sudah ia diasingkan dari
keluarga, menetap dan menjadi santri. Berbagai kisah sedih, senang, bahagia,
duka, hingga jatuh cinta sekalipun pernah ia rasakan. Ada kisah yang takkan pernah
terlupakan selama masa pengasingannya. Suatu ketika Roni pernah membawa sebuah handphone. Entah beralasan apa hingga ia
berani membawa handphone, benda yang jelas-jelas diharamkan bagi santri untuk
di bawa.
Detik
berganti menit, hingga hari demi hari berganti menjadi minggu. Ia begitu santai
menjalani rutinitasnya membawa handphone. Awalnya ia merasa di awasi, merasa
seribu pasang mata mengawasi setiap langkahnya, merasa seperti seorang pembunuh
lepas dai Lembaga ke-Masyarakatan.
***
Pagi
itu tampak cerah, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aktifitas pagi hari terlihat,
bersih-bersih sesuai jadwal piket, mandi yang mengantri, dan bersiap-siap untuk
sekolah. Tetapi cerahnya pagi itu serasa mendung di sudut kamar. Roni terlihat
begitu kalap mencari suatu benda miliknya. Mengacak-acak almari, mengeluarkan
setiap baju, memeriksa setiap lembar kitab di atas almarinya. Setelah beberapa
lama kemudian, raut wajahnya semakin bertambah khawatir, bertumpuk-tumpuk
pakaian terhampar. Tetapi barang yang dicari tak kunjung di temukan. Sejenak
duduk dan bersandar, melepas nafas beban panjang berbau kingkong.
“Ente kenapa Ron?” tanya Hilal.
Ia tetap diam tak menjawab sembari
menatap kosong almarinya. Hilal memerhatikan raut wajah Roni pucat pasi, seperti
terkena busung lapar. Hilal mendekat, dan coba mengecek, seperti ada sesuatu
pikirnya. Roni tetap melamun, memandang
langit kamar penuh kosong. Tiba-tiba Roni memukul almarinya, seperti
banteng mengamuk. Meluapkan kemarahan membanting semua benda-benda di
hadapannya sembari mulut menceracau.
“Jehh,
Bacild, Marah-marah gak jelas!” Ujar Hilal
pergi meninggalkan Roni sendiri. Ketika Hilal beranjak keluar terdengar
teriakkan namanya dari dalam kamar. “Hilal....”
Hilal
agak sedikit malas menghampirinya.
“Lal,
ente tahu siapa yang semalem ke kamar?”
“Enggak
tahu Ron, emang kenapa?” menjawab heran penuh curiga.
“Hape
ane ilang..” ucap Roni sembari berbisik. Mendengar pernyataan Roni, ekspresi
wajah Hilal berubah seperti boneka winnie the pooh kena types. Terkejut membuat
Hilal menggigil dan guling-guling di kamar.
“Ente
bawa hape?”
“Iya,
tapi jangan bilang-bilang, entar ketahuan
sama si Gondrong.”
Gondrong,
julukan lurah yang berambut gondrong, ada dua kemungkinan julukan itu; berambut
Gondrong, dan sikapnya yang Gondrong yang berarti ketus terhadap siapapun.
Roni
memelas agar tindakan terlarangnya tidak diketahui oleh orang lain. Hilal yang
tidak mengetahui apapun, mencoba meminta klarifikasi. Roni memaparkan ia sudah
membawa kotak haram itu beberapa hari yang lalu. Membawa kotak itu tidak tanpa
alasan, roni punya dalil yang kuat untuk membawanya. Alasannya sih sederhana,
ia sedang pedekate sama teman Sekolah
Dasarnyanya dulu,untung saja sewaktu sekolah dasar, bukan sewaktu Taman
Kanak-kanak, atau sewaktu di Paud. Hilal mendengarkan dengan serius, tiap-tiap
kata terucap dari mulut Roni terekam cermat, sampe-sampe muncrat-muncrat ke wajah Hilal. Hilal hanya membatin, jangan pake kuah kali bos.
No comments:
Post a Comment