Sunday, February 2, 2014

Bacild Story


            Lantunan ayat suci menggetarkan jiwa bergema dari setiap sudut. Sebersik cahaya perlahan naik dari ufuk timur. Beberepa santri terkadang menganggut pelan. Rasa kantuk menggelayuti setiap tubuh. Memaksa setiap orang terhanyut dengan syahdunya suasana pagi hari. Jika serasa di rumah pukul lima pagi masih terlelap, beda halnya di pesantren. setiap santri di tuntut bangun lebih awal, ketika sedang terlelap, ia dipaksa untuk bangun melaksanakan tahajud, kegiatan rutin setiap hari, di lanjut dengan jama’ah subuh, lalu di iisi dengan membaca Al-Qur’an, atau menghafal untuk di setorkan kepada setiap instruktur.
Di sudut mushola, terdapat seorang pemuda bertubuh gempal, berambut lurus, dan wajah bulat seperti bakpao. Roni, pemuda berasal dari bogor, tetapi selalu mengaku-ngaku keturunan padang. Terlahir dari keluarga yang sederhana tetapi penuh cinta dan kasih dari kedua orang tuanya , tetapi berbeda dengan kenyataannya. Ia sudah diasingkan di sebuah pondok pesantren selepas lulus sekolah dasar. Pemuda yang nyantri, begitu tekun dalam menghafal Al-Qur’an. Bahkan sebegitu tekunnya, ia sampai hafal Surah Al Baqaroh dalam waktu dua hari. Bener enggak yaaa..
            Pemuda ini begitu berambisi menghafal al qur’an dan bercita-cita menjadi seorang hafidz. Tak jarang, di sela-sela waktu berkumpul dengan teman-temannya ia begitu terobsesi dengan ustadz-ustadz ternama di beberapa stasiun televisi. Saking terobsesinya logat bicaranya saja hampir dimirip-miripkan sengan Kh Zainuddin Mz. Ia sudah menetapkan sebuah rencana selepas lulus nanti ia akan kuliah di PTIQ JAKARTA, sebuah universitas yang menjadi favorit bagi sebagian santri PP UQ. Bacild, sapaan akrab roni, begitu rajin dan disiplin hingga menjadi teladan bagi seluruh santri PP UQ sebenernya mah lebih dari itu sampe-sampe jama’ah berbasi di shaf paling depan mengalahkan imam .
           
            Enam tahun sudah ia diasingkan dari keluarga, menetap dan menjadi santri. Berbagai kisah sedih, senang, bahagia, duka, hingga jatuh cinta sekalipun pernah ia rasakan. Ada kisah yang takkan pernah terlupakan selama masa pengasingannya. Suatu ketika Roni pernah membawa sebuah handphone. Entah beralasan apa hingga ia berani membawa handphone, benda yang jelas-jelas diharamkan bagi santri untuk di bawa.
Detik berganti menit, hingga hari demi hari berganti menjadi minggu. Ia begitu santai menjalani rutinitasnya membawa handphone. Awalnya ia merasa di awasi, merasa seribu pasang mata mengawasi setiap langkahnya, merasa seperti seorang pembunuh lepas dai Lembaga ke-Masyarakatan.
                                                            ***
Pagi itu tampak cerah, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aktifitas pagi hari terlihat, bersih-bersih sesuai jadwal piket, mandi yang mengantri, dan bersiap-siap untuk sekolah. Tetapi cerahnya pagi itu serasa mendung di sudut kamar. Roni terlihat begitu kalap mencari suatu benda miliknya. Mengacak-acak almari, mengeluarkan setiap baju, memeriksa setiap lembar kitab di atas almarinya. Setelah beberapa lama kemudian, raut wajahnya semakin bertambah khawatir, bertumpuk-tumpuk pakaian terhampar. Tetapi barang yang dicari tak kunjung di temukan. Sejenak duduk dan bersandar, melepas nafas beban panjang berbau kingkong.
            “Ente kenapa Ron?” tanya Hilal.
            Ia tetap diam tak menjawab sembari menatap kosong almarinya. Hilal memerhatikan raut wajah Roni pucat pasi, seperti terkena busung lapar. Hilal mendekat, dan coba mengecek, seperti ada sesuatu pikirnya. Roni tetap melamun, memandang  langit kamar penuh kosong. Tiba-tiba Roni memukul almarinya, seperti banteng mengamuk. Meluapkan kemarahan membanting semua benda-benda di hadapannya sembari mulut menceracau.
“Jehh, Bacild,  Marah-marah gak jelas!” Ujar Hilal pergi meninggalkan Roni sendiri. Ketika Hilal beranjak keluar terdengar teriakkan namanya dari dalam kamar. “Hilal....”
Hilal agak sedikit malas menghampirinya.
“Lal, ente tahu siapa yang semalem ke kamar?”
“Enggak tahu Ron, emang kenapa?” menjawab heran penuh curiga.
“Hape ane ilang..” ucap Roni sembari berbisik. Mendengar pernyataan Roni, ekspresi wajah Hilal berubah seperti boneka winnie the pooh kena types. Terkejut membuat Hilal menggigil dan guling-guling di kamar.
“Ente bawa hape?”
“Iya, tapi jangan bilang-bilang, entar ketahuan sama si Gondrong.”
Gondrong, julukan lurah yang berambut gondrong, ada dua kemungkinan julukan itu; berambut Gondrong, dan sikapnya yang Gondrong yang berarti ketus terhadap siapapun.
Roni memelas agar tindakan terlarangnya tidak diketahui oleh orang lain. Hilal yang tidak mengetahui apapun, mencoba meminta klarifikasi. Roni memaparkan ia sudah membawa kotak haram itu beberapa hari yang lalu. Membawa kotak itu tidak tanpa alasan, roni punya dalil yang kuat untuk membawanya. Alasannya sih sederhana, ia sedang pedekate sama teman Sekolah Dasarnyanya dulu,untung saja sewaktu sekolah dasar, bukan sewaktu Taman Kanak-kanak, atau sewaktu di Paud. Hilal mendengarkan dengan serius, tiap-tiap kata terucap dari mulut Roni terekam cermat, sampe-sampe muncrat-muncrat ke wajah Hilal. Hilal hanya membatin, jangan pake kuah kali bos.

No comments:

Post a Comment