Kau tahu aku dan perasaanku. Dan aku
tahu apa yang kau rasakan, tetapi ku masih meragukan perasaan itu. Mengapa? Kau
pasti akan bertanya mengapa. Cukup ku jawab, kau ingin menyeberang lautan,
tetapi yang ada hanya perahu dan kau tidak ingin terkena ombak, dan juga tidak
ingin berenang menyeberanginya. Kurasa kau orang yang pintar, jadi tidak perlu
ku jelaskan kepadamu.
“Ku sering merasakan cacian, makian,
kebencian dan sakitnya tidak dianggap oleh orang lain. tetapi tidak pernah
sesakit itu. Rasanya lebih baik dibenci, di caci, dihina dan di maki, tetapi
masih dihargai kerja keras dan kehadirannya, dari pada kau diterima baik,
tetapi tidak pernah dihargai sama sekali. kau menyalakan lilin untuk
penerangan, tetapi kau biarkan lilin itu mati tanpa kau harus menjaganya dari
tiupan angin. Bahkan kau mempunyai peliharaan, tetapi peliharaan itu tidak
pernah kau beri makan, akhirnya peliharaan itu mati kelaparan. Sudahlah, ku
coba melapangkan semua beban. Ku sadar tidak sesempurna apa yang diimpikan.
Biar Allah membalasnya, membalas ratapan kekasih yang sia-sia Hahaha...”
begitulah nasihat Guru kepada muridnya. Sembari tertawa ku memperhatikan
susunan giginya yang teratur. Mbah Syamsul.
What? Ratapan kekasih yang sia-sia.
begitu sia-siakah? Arendi bergumam dalam hati. seolah tidak terima dengan
julukan barunya.
“Tapi Embah, tetapi dia menerima,
dan mengutarakan isi perasaannya secara jujur kepadaku.” Kata Arendi tidak
terima atas julukan barunya.
Mbah Syamsul menyunggingkan senyum
mendengar Arendi. Mengelus-ngelus jenggot tebal yang mulai keputihan.
Perbincangan itu seketika terhening, Mbah Syamsul diam sejenak, mencoba
bertanya kembali, tapi diurungkan.
“Nahh, kalo itu bagaimana Mbah?”
“Dia mengungkapkan perasaannya
kepadamu?”
“Iya Mbah, malah dia bilang kalo
saya cinta pertamanya..”
“Lalu kenapa kau berkeluh kesah dan
menceritakan kepadaku?”
Arendi terdiam sejenak, pertanyaan
itu menghujam perasaannya yang kini begitu pahit. menarik nafas perlahan. Dan
menjawab pertanyaan itu.
“Saya bingung Mbah oleh sikapnya,
terlebih sore itu. ketika ku ingin menjemputnya, ku telah mengirim pesan, dan
dia menjawab dia sudah pulang bareng temannya.
Tadinya u coba tidak curiga Mbah, karena ku percaya kepada dia, pulang bersama
teman kuliahnya..”
“Lalu?”
“Lalu selepas itu, menjelang Isya ku
lihat pulang bersama temannya, tetapi teman itu laki-laki yang juga
menyukainya..”
“Bagaimana kau tahu itu?”
“Dia sendiri Mbah yang menceritakan
hal itu kepadaku.”
“Ehhmm..”
Mbah Syamsul terdiam lagi, berpikir
sejenak tentang kecemburuan kekasih yang sia-sia satu ini.
“Kau tidak tanyakan atau meminta
klarifikasi?”
“Tidak Mbah, ku tidak menanyakannya,
ku pikir cukup ku diam tidak menjawab panggilan dan pesan, dia akan jujur, dan
dia jujur, perihal penjemputan sepulang kuliah, tetapi ku cemburu Mbah.”
“Cemburu?, Kau punya hubungan
terhadapnya?”
Arendi terkejut tak menjawab dan
diam sejenak. Lalu pertanyaan itu terulang kembali.
“Kau punya hubungan?”
“Tidak Mbah,..” pelan menjawab
dengan kepala tertunduk. Tertegun dan diam lagi.
“Ehhmm, terang saja, kau dan dia
tidak punya hubungan apapun, untuk apa kau cemburu, kau bilang pernah
mengutarakan perasaan dan di terima, lalu di putuskan, kau bodoh, kau ini hanya
di PHP saja. Untuk apa kau memendam perasaan itu, perasaan yang ujung
pangkalnya sia-sia, ku tegaskan perempuan yang mem-PHP kan itu adalah perempuan jahat, tak lebih
dengan perempuan lain yang mempermainkan perasaan orang lain, meski ia baik
kepadamu, bahkan memperhatikanmu, percayalah ia tidak pernah ada niat untuk
serius menjalin hubungan hingga kepernikahan nanti, jodoh memang sudah
ditentukan oleh Allah, tetapi kita tidak mengetahui jodoh yang digariskan itu
siapa, kita hanya bisa yakin dan mempercayainya sepenuhnya.” Jelas Mbah
Syamsul.
“Ingat, kau tidak perlu
merindukannya lagi, biar saja Allah membalas rasa sakitmu, ingat Karma itu
berlaku selama nafas berhembus, tidak perlu kau risaukan, sudah cukup dan
jangan kau berlarut-larut lagi, lebih baik kau konsentrasi dengan kuliahmu, dan
tujuanmu.”
Setelah mendengar petunjuk gurunya,
Arendi diam dan merenung. Tidak tahu harus menjawab apa lagi, mungkin ada
benarnya juga. Ku begitu terlarut-larut selama ini, hingga lupa apa yang sedang
kukerjakan. Tiba-tiba suara Adzan terdengar, percakapan terjeda sejenak
menunggu adzan berhenti. Selesai Adzan Isya guru dan murid melangkah untuk
menunaikan shalat berjama’ah. Selepas shalat Arendi pamit dan pergi pulang. Di
ujung perpisahannya itu Mbah Syamsul tersenyum mendengar keluh kesah murid
perihal perempuan, melihat Arendi perlahan lenyap dari pandangannya. (*)
No comments:
Post a Comment