Sunday, February 2, 2014

Dusta Dibalik Wajah Yang Manis



            Kau tahu aku dan perasaanku. Dan aku tahu apa yang kau rasakan, tetapi ku masih meragukan perasaan itu. Mengapa? Kau pasti akan bertanya mengapa. Cukup ku jawab, kau ingin menyeberang lautan, tetapi yang ada hanya perahu dan kau tidak ingin terkena ombak, dan juga tidak ingin berenang menyeberanginya. Kurasa kau orang yang pintar, jadi tidak perlu ku jelaskan kepadamu.
            “Ku sering merasakan cacian, makian, kebencian dan sakitnya tidak dianggap oleh orang lain. tetapi tidak pernah sesakit itu. Rasanya lebih baik dibenci, di caci, dihina dan di maki, tetapi masih dihargai kerja keras dan kehadirannya, dari pada kau diterima baik, tetapi tidak pernah dihargai sama sekali. kau menyalakan lilin untuk penerangan, tetapi kau biarkan lilin itu mati tanpa kau harus menjaganya dari tiupan angin. Bahkan kau mempunyai peliharaan, tetapi peliharaan itu tidak pernah kau beri makan, akhirnya peliharaan itu mati kelaparan. Sudahlah, ku coba melapangkan semua beban. Ku sadar tidak sesempurna apa yang diimpikan. Biar Allah membalasnya, membalas ratapan kekasih yang sia-sia Hahaha...” begitulah nasihat Guru kepada muridnya. Sembari tertawa ku memperhatikan susunan giginya yang teratur. Mbah Syamsul.
            What? Ratapan kekasih yang sia-sia. begitu sia-siakah? Arendi bergumam dalam hati. seolah tidak terima dengan julukan barunya.
            “Tapi Embah, tetapi dia menerima, dan mengutarakan isi perasaannya secara jujur kepadaku.” Kata Arendi tidak terima atas julukan barunya.
            Mbah Syamsul menyunggingkan senyum mendengar Arendi. Mengelus-ngelus jenggot tebal yang mulai keputihan. Perbincangan itu seketika terhening, Mbah Syamsul diam sejenak, mencoba bertanya kembali, tapi diurungkan.
            “Nahh, kalo itu bagaimana Mbah?”
            “Dia mengungkapkan perasaannya kepadamu?”
            “Iya Mbah, malah dia bilang kalo saya cinta pertamanya..”
            “Lalu kenapa kau berkeluh kesah dan menceritakan kepadaku?”
            Arendi terdiam sejenak, pertanyaan itu menghujam perasaannya yang kini begitu pahit. menarik nafas perlahan. Dan menjawab pertanyaan itu.
            “Saya bingung Mbah oleh sikapnya, terlebih sore itu. ketika ku ingin menjemputnya, ku telah mengirim pesan, dan dia menjawab dia sudah pulang bareng temannya. Tadinya u coba tidak curiga Mbah, karena ku percaya kepada dia, pulang bersama teman kuliahnya..”
            “Lalu?”
            “Lalu selepas itu, menjelang Isya ku lihat pulang bersama temannya, tetapi teman itu laki-laki yang juga menyukainya..”
            “Bagaimana kau tahu itu?”
            “Dia sendiri Mbah yang menceritakan hal itu kepadaku.”
            “Ehhmm..”
            Mbah Syamsul terdiam lagi, berpikir sejenak tentang kecemburuan kekasih yang sia-sia satu ini.
            “Kau tidak tanyakan atau meminta klarifikasi?”
            “Tidak Mbah, ku tidak menanyakannya, ku pikir cukup ku diam tidak menjawab panggilan dan pesan, dia akan jujur, dan dia jujur, perihal penjemputan sepulang kuliah, tetapi ku cemburu Mbah.”
            “Cemburu?, Kau punya hubungan terhadapnya?”
            Arendi terkejut tak menjawab dan diam sejenak. Lalu pertanyaan itu terulang kembali.
            “Kau punya hubungan?”
            “Tidak Mbah,..” pelan menjawab dengan kepala tertunduk. Tertegun dan diam lagi.
            “Ehhmm, terang saja, kau dan dia tidak punya hubungan apapun, untuk apa kau cemburu, kau bilang pernah mengutarakan perasaan dan di terima, lalu di putuskan, kau bodoh, kau ini hanya di PHP saja. Untuk apa kau memendam perasaan itu, perasaan yang ujung pangkalnya sia-sia, ku tegaskan perempuan yang mem-PHP  kan itu adalah perempuan jahat, tak lebih dengan perempuan lain yang mempermainkan perasaan orang lain, meski ia baik kepadamu, bahkan memperhatikanmu, percayalah ia tidak pernah ada niat untuk serius menjalin hubungan hingga kepernikahan nanti, jodoh memang sudah ditentukan oleh Allah, tetapi kita tidak mengetahui jodoh yang digariskan itu siapa, kita hanya bisa yakin dan mempercayainya sepenuhnya.” Jelas Mbah Syamsul.
            “Ingat, kau tidak perlu merindukannya lagi, biar saja Allah membalas rasa sakitmu, ingat Karma itu berlaku selama nafas berhembus, tidak perlu kau risaukan, sudah cukup dan jangan kau berlarut-larut lagi, lebih baik kau konsentrasi dengan kuliahmu, dan tujuanmu.”
            Setelah mendengar petunjuk gurunya, Arendi diam dan merenung. Tidak tahu harus menjawab apa lagi, mungkin ada benarnya juga. Ku begitu terlarut-larut selama ini, hingga lupa apa yang sedang kukerjakan. Tiba-tiba suara Adzan terdengar, percakapan terjeda sejenak menunggu adzan berhenti. Selesai Adzan Isya guru dan murid melangkah untuk menunaikan shalat berjama’ah. Selepas shalat Arendi pamit dan pergi pulang. Di ujung perpisahannya itu Mbah Syamsul tersenyum mendengar keluh kesah murid perihal perempuan, melihat Arendi perlahan lenyap dari pandangannya. (*)

No comments:

Post a Comment