Sunday, May 18, 2014

Menggambar Ayah



A.S Laksana
            PADA umur sepuluh tahun, aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam, kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir tentang apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran Ibu. Aku seirng berpikifr mestinya ibu tidak usah membeciku. Akan lebih baik sekiranya ia mencintaiku seperi ibu-ibu yang lain mencintai anaknya. Tetapi rupanya ibu lebih suka membenciku.

Perseteruanku dengan ibu sudah di mulai bahkan ketika usiaku baru empat bulan dalam kandungannya. Ibu menghendaki supaya aku jangan pernah nongol sama sekali dari rahimnya. Ia menyorongkan segala jenis obat-obatan ke dalam perutnya untuk menggodam kepalaku, melubangi paru-paruku, melemahkan jantungku, dan meracuni pertumbuhanku di dalam rahimnya. Karena itulah aku justru berdoa sepanjang siang sepanjang malam agar di beri kekuatan untuk bertahan dari upaya-upayanya memberangus kehadiranku. Selain, aku juga meminta pertolongan kepada teman-temanku –Mahkluk –mahkluk putih yang diperintahkan untuk menjagaku- agar mereka membantu menahan gempuran gempuran yang di lancarkan perempuan itu.


“Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku?” tanyaku kepada mereka.

“Ia takut melahirkan serigala,” jawab salah satu.

“Ia menganggapku seekor serigala?”

“Perempuan itu mendapatkanmu dari jalanan.”

“Karena itu aku di anggapnya serigala?”

“Karena itu kau di anggapnya serigala.”

Itu bukan salahku. Aku ingin memproes. Tetapi temanku bilang bahwa perempuan itu tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya tidak ingin membesarkan benih yang menerobos masuk ke dalam rahimnya dari pipa lelaki jalanan.

“Tapi itu salahnya!” jeritku. “Ia sendiri menyukai jalanan. Bukankah  ia selalu melenggang di daeerah-daerah di mana lelaki menggelapar sembarangan tempat?”

Aku membayangkan beribu-ribu lelaki menggelepar di semak-semak, bagai ular yang sedang mengintip mangsa mungkin ibuku di pagut ular-ular itu, lalu tumbuhlah rahim di dalam rahimnya. Tumbuhlah aku.

Mungkin karena malu perutnya makin besar, ibuku lalu merontokkan benih itu. Alangkah jahatnya, bagaimanapun aku harus lahir, tidak pedli bentukku nanti seperti apa. Bila sudah kuat badanku, akan kutampar ibuku agar tahu kesalahannya.

Teman-temanku membangun benteng yang liat untuk melindungiku. Di depan benteng itu mereka berjaga-jaga sekuat-kuatnya mereka menghalau racun yang membidik nyawaku. Meski benteng melindungiku sangat kukuh, dan teman-temanku tak pernah lalai menjagau, kadang-kadang ada juga racun yang lolos dan menyentuh kulitku. Tubuhku panas sekali dan mataku pedih setiap kali ibuku menjebloskan obat kedalam perutnya dari hari ke hari obat yang di telannya semakin kuat.

“Kelihatannya aku tak mampu lagi melindungimu,” kata mahkluk putihh suatu ketika. “Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Aku terharu oleh kesetiannya. Temanku itu memang kelihatannya sudah kepayahan. Tubuhnya yang putih mulai berubah kebiru-biruan. Tapi teman yang baik tidak pernah menghitung keselamatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya. Temanku yang satu lagi masih lumayan. Dia lebih kuat daya tahannya. Hanya kepalanya saja yang agak pening.

“Ku harap kau ssendiri masih kuat,” katanya kepadaku. “Tinggal setengah bulan lagi.”

Setengah bulan terlalu lama. Tiga hari setelah itu aku memberontak keluar dari perut ibu. Ku bilang kepada teman-temanku, aku sduah tidak kuat lagi. Kuminta mereka untuk mendesakku keluar.

“Kau siap?” Tanya mereka.

“Mungkin tidak. Tapi ia terus menghujaniku dengan  racun. Aku ingin keluar saja,” jawabku.

Mereka mendorongku keluar. Tangisku merobek nyali ibu. Ia pingsan setelah melahirkanku. Kepalakau tidak bagus bentuknya, kedua mataku melotot besar, dan tanganku panjang sebelah. Setelah siuman, ibu membesarkanku dengan rasa marah. Ia menjadi angin putting belliung yang membanting-banting aku. Aku merasa kesepian karena mahkluk-mahkluk putih tidak lagi berada di sebelahku.

Ku pikir mereka kembali ke langit. Karena itu ketika malam jatuh, aku suka melompati jendela dan tidur-tiduran di belakang rumah memandang langit. Aku rinduk kepada teman-teman yang mejnagaku. Mungkin satu ketika mereka akan tampak di antara bintang-bintang. Melompat-lompat dari bintang satu ke bintang yang lain. Kepada bintang-bintang di langit aku berpesan. “Bila kalian melihat teman-temanku, suruh mereka datang ke rumah. Masuk saja lewat atap rumah, jangan sampai ketahuan Ibu.”

Setelah berpesan demikian biasanya aku masuk lagi lewat jendela yang sama. Di kamar, ku benturkan pandanganku pada langit-langit ruangan sambil berharap teman-temanku akan meluncur dari bubungan atap menemuiku. Tapi biasanya di langit-langit kamar aku hanya bisa menemukan kecoak. Kau tahu, mahkluk ini tidak pernah menjadi teman bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sudi berteman dengan kecoak; ia selalu mencopot sandalnya jika elihat seekor kecoak melintas dan memukul-mukulkan sandal di tangannya sampai binatang itu pecah tertampar sandal.

“Kenapa kau tidak melakukan protes?” tanyaku padanya suatu hari.

“Apa yang bisa diprotes?” ia balik bertanya dengan nada sengit.

“Kalian selalu dibunuh tanpa salah.”

“Karena kami kecoak.”

“Begitukah?”

“Kau juga kecoak.”

“Aku manusia.”

“Bagi ibumu, kau adalah kecoak.”

“Kau menghinaku. Ibuku menganggap aku serigala.”

“Kau hanyalah kecoak.”

“Aku ingin membunuhmu karena kau menghinaku.”

Aku betul-betul ingin membunuhnya. Sebab kecoak tidak boleh menghina manusia. Aku melesat ke langit-langit memburu kecoak itu. Ia terbang. Aku meompat dari tempat tidur, dari meja ke dinding, dan kemudian dari dinding ke dinding. Kecoak dan aku saling berkejaran menimbulkan sauara berdebam-debam.

Ibu mendobrak daun pintu kamarku dan menghantamkan caci maki ke telingaku. Mulutnya menyemburkan badai dan bau alcohol. Sebetulunya aku ingin bilang padanya, “Kenapa ibu selalu datang membawa badai kepadaku?” tapi badai tak pernah bisa disela oleh pertanyaan apapun. Ditamparnya aku dengan sandal hingga terpelanting. Kecoak yang kuburu terbang keluar kamar.

Ibu tidak pernah tahu bahwa aku selalu rindu kepadanya. Bila aku mmau, sebetulnya bisa saja aku menyelinap ke kamarnya ketika dia tidur, lalu kucekik batang lehernya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Aku orang yangrindu. Rindu kepada siapa saja. Kepada bintang-bintang, kepada kecoak di langit-langit kamar, kepada mahkluk-mahkluk putih yang telah menyelematkanku, dan kepada tangan ibu.

Aku rindu tangan ibu diatas dahiku, kemudian tangan itu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur. Tidak pernah ia melakukan itu. Rasa rindu menjadi racun yang menyumbat jalan darahku. Kadang-kadang napasku terasa sesak. Mungkin racun itu telah menyumbat jalan napasku.

Aku juga rindu kepada ular-ular. Salah satu dari mereka pasti bapakku. Aku ingin menyapa mereka dan mengatakan, “Selamat pagi, pak ini aku anakmu. Kulihat rambutmu sudah banyak beruban. Aku ingin mencabuti ubanmu agar kau kelihatan lebih muda. Atau kau ingin ku bikinkan minuman?”

Ibu tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa di panggil bapak kepadaku. Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu adalah bapakku, aku akan sangat berbahagia. Mungkin ia seorang laki-laki yang suka membunuh perempuan dan menghisap air liurnya agar memperoleh kesaktian, atau mungkin ia orang yang suka menampar orang ketika mabuk. Tak apalah. Yang penting ada orang yang bisa ku panggil bapak. Aku sudah mempersiapkan diri untuk memangggil bapak kepada siapapun yang di bawa oleh ibu.
Tapi orang yang bisa kupanggil bapak itu tak pernah datang. Agaknya ibu tidak pernah berpikir untuk memberiku seorang bapak. Maka aku membikin sendiri bapakku.

http://arfaneffendikolom.blogspot.com//

No comments:

Post a Comment