Wednesday, March 5, 2014

Mencari makna

Terhanyut sepi. itulah yang di rasakan Dul. Terpaku di sudut ruang enam kali empat meter. Meja paling belakang dari bentuk leter L. Dentingan jam terus bergerak tanpa interupsi. menelusuri angka demi angka dari tiap angka, Semakin malam, jarum jam tepat pukul dua puluh tiga malam lewat. Kantor begitu sepi yang hanya ada Dul. Aneh memang, Di jam Dua puluh malam, Kebanyakan pegawai memang sudah pulang, berbeda halnya dengan Dul. Ia lembur, ada beberapa berkas yang harus di selesaikan, dan esok pagi harus sudah terselesaikan.

Berhadapan Layar komputer, mata sayup-sayup ingin terpejam. Mungkin jika dilihat beban sudah tergantung barbel empat puluh kilo. memutar otak untuk terus fokus, tangan beradu kecepatan diiringi bunyi keyboar. tak, tak, tak, tak, seolah mengeluarkan alunan simfoni dari maestro ternama.

beberapa menit kemudian. Akhirnya Dul menyerah. mengalihkan pandangan pada jam dinding. Jarum jam terpaku di angka dua belas. mendekati pagi dinihari beberapa berkas belum juga kunjung selesai. Berniat untuk memberhentikan semua pekerjaan, dan melanjutkannya esok pagi, tapi Diurungkan. langsung terbayang wajah direktur yang ditemuinya siang tadi. Nampak di ujung pelupuk matanya sesosok wajah garang nan menyeramkan. jika digambarkan di sebuah kanvas akan terlihat dan terbentuk seperti siluman kodok bunting.

Huuaahhh. Mulutnya menganga menguap, mengeluarkan aroma tidak sedap. bangkit dari kursi, melangkah menuju  Dapur kantor. Mungkin segelas kopi bisa merefreskan otak. setelah berjam-jam bertarung dengan berkas-berkas. menghitung enjualan akhir bulan ini. Dul adalah seorang sarjana lulusan manajemen ekonomi. Selepas Lulus, Ia langsung melamar sebuah pekerjaan, dan ditempatkan di bagian keuangan. mengurus, mengatur, dan menghitung kegiatan keuangan baik itu pengeluaran, Pemasukkan dan berbagai lainnya yang berkaitan keuangan perusahaan.

mengaduk segelas kopi dengan pandangan kosong. melangkah kembali menuju tempatnya semula. meletakkan gelas dan menyandarkan tubuh. menatap langit-langit penuh kekosongan. dalam otaknya terbayang ambisi sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Dahulu, Dul begitu berambisi, menjadi aktifis, memperjuangkan hak-hak kaum tertindas. Demo sana sini, berorasi penuh lantang. Tiga semester ia terus mengulang karena kegiatan Ekstra kampusnya. terbengkalai begitu saja, hingga akhirnya Dul memutuskan untuk fokus dan segera menyelesaikan kuliahnya. Meninggalkan aktifitas yang berbau aktifis. setelah menyusun skripsi, Sidang, wisuda, dan akhirnya Jadilah ia menjadi seorang sarjana ekonomi. Abdul Madjid SE, Terpampang gelar ketika membuat kartu tanda penduduk di kelurahan.

Entah kerasukan roh atau apa. ia kembali berhadapan layar lima belas inci. mengarahkan kursor Mouse Membuka lembaran kosong. ia tidak melanjutkan Berkas yang harus di selesaikan, melainkan ia mengetik kata demi kata mencari makna dari sebuah kalimat, hingga akhirnya berevolusi sebuah gagasan dalam hidupnya. Keep Move! 


No comments:

Post a Comment