Wednesday, February 12, 2014

Teori Vs Perasaan


Lelaki itu masih tersudut dalam kamarnya. Terbaring di atas kasur, sesekali menarik nafas dalam. Menghentakkan lelah setelah melalui perjalanan hari ini. Ruang lima kali enam meter itu begitu nyaman. Tampak beberapa macam buku di rak pojok kamar. Mengedarkan pandangan, mencoba menerka beberapa potong kisah dari rak buku. Melihat, meneliti, dari satu buku ke buku lain. Bangkit sejenak, mengambil sebuah buku. Tidak ada nafsu untuk membaca, ia letakkan kembali buku itu pada rak. Beralih pandangan pada tasnya. Merogoh dalam, mengambil sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Membaca hasil wawancara tadi. Terbersit untuk mengerjakan sebuah berita, menyalakkan laptopnya. Tetapi di urungkan, rasa-rasanya ia sedang tidak bernafsu untuk melakukan aktifitas. Membaringkan tubuh ke atas kasur, membenamkan pikiran dalam bantal. Menatap langit-langit ruang, terputar sebuah kipas angin.


Pikirannya melayang jauh ke luar. Bermain-main ke rumah kenangan. Sesekali Dul tersenyum, dan sesekali wajahnya berubah pahit. Tiba-tiba terngiang pembicaraan dengan salah seniornya. Diskusi kecil di sebuah perjalanan. “Jadi, menurut kaca mata sosiologi. Ketika mazhab Frangkurt terjadi. Romantisme bangsa  adalah bukan mengingat yang manis. Tetapi romantisme bangsa itu mengingat kepahitan dalam kekacauan sebuah negara. Yang akhirnya terjadi persatuan. Dan dengan mengingat kepahitan itu memaksa masyarakat untuk ‘move on’  menuju masa depan bangsa yang indah. loe mana bisa move on kalo inget yang manis bukan yang pahit.” tutur Basith. Sejenak ku berfikir. Dan menerka apa yang dituturkannya. Menerka lebih rinci, mendalami dengan membandingkan apa yang dialaminya. Tidak seperti biasanya ia berbicara seperti itu. Ah! Setelah menelisik, melihat dari beberapa status bbm’a ternyata ia sedang galau. Haha! Dalam hati kecil ku tertawa puas. Melihat kegalauan senior. “Haha, ciye yang lagi move on,” ku balas dengan candaan. Mendengar itu, raut wajahnya berubah. Ia pun membalasnya. “Lho, lho, gua ngasih tau, kan elu yang baru diputusin trus galau jangan gitu dong,”  ku tertegun, membenarkan posisi duduk menutupi rasa grogi. Ketika ingatan itu menerawang jauh, tiba-tiba terpecah dengan teriakan ibu. “Duulll, Noh ada temennya dateng,” bangkit dan keluar dari kamar. Menemui beberapa teman yang sudah menunggui di depan rumah. “Dul, ayo berangkat,” ucap seorang teman. Masuk kembali ke dalam kamar, mengambil catatan, memasukkan ke dalam tas dan bergegegas pergi. “Buu
, Dul pergi dulu,”



Selama di perjalanan, perkataan itu terus saja terngiang. Memburu ingatan, mencoba membandingkan pengalaman dalam teori. Dan akhirnya pecahlah perdebatan hebat dalam diri. Perdebatan antara akal dan hati..... (*)








No comments:

Post a Comment