Lelaki
itu masih tersudut dalam kamarnya. Terbaring di atas kasur, sesekali menarik
nafas dalam. Menghentakkan lelah setelah melalui perjalanan hari ini. Ruang
lima kali enam meter itu begitu nyaman. Tampak beberapa macam buku di rak pojok
kamar. Mengedarkan pandangan, mencoba menerka beberapa potong kisah dari rak
buku. Melihat, meneliti, dari satu buku ke buku lain. Bangkit sejenak,
mengambil sebuah buku. Tidak ada nafsu untuk membaca, ia letakkan kembali buku
itu pada rak. Beralih pandangan pada tasnya. Merogoh dalam, mengambil sebuah
buku catatan dan sebuah pulpen. Membaca hasil wawancara tadi. Terbersit untuk
mengerjakan sebuah berita, menyalakkan laptopnya. Tetapi di urungkan,
rasa-rasanya ia sedang tidak bernafsu untuk melakukan aktifitas. Membaringkan
tubuh ke atas kasur, membenamkan pikiran dalam bantal. Menatap langit-langit
ruang, terputar sebuah kipas angin.
Pikirannya
melayang jauh ke luar. Bermain-main ke rumah kenangan. Sesekali Dul tersenyum,
dan sesekali wajahnya berubah pahit. Tiba-tiba terngiang pembicaraan dengan
salah seniornya. Diskusi kecil di sebuah perjalanan. “Jadi, menurut kaca mata sosiologi. Ketika mazhab Frangkurt terjadi.
Romantisme bangsa adalah bukan mengingat
yang manis. Tetapi romantisme bangsa itu mengingat kepahitan dalam kekacauan
sebuah negara. Yang akhirnya terjadi persatuan. Dan dengan mengingat kepahitan
itu memaksa masyarakat untuk ‘move on’ menuju masa depan bangsa yang indah. loe mana
bisa move on kalo inget yang manis bukan yang pahit.” tutur Basith. Sejenak
ku berfikir. Dan menerka apa yang dituturkannya. Menerka lebih rinci, mendalami
dengan membandingkan apa yang dialaminya. Tidak seperti biasanya ia berbicara
seperti itu. Ah! Setelah menelisik, melihat dari beberapa status bbm’a ternyata ia sedang galau. Haha! Dalam
hati kecil ku tertawa puas. Melihat kegalauan senior. “Haha, ciye yang lagi move on,” ku balas dengan
candaan. Mendengar itu, raut wajahnya berubah. Ia pun membalasnya. “Lho, lho,
gua ngasih tau, kan elu yang baru diputusin trus galau jangan gitu dong,” ku tertegun, membenarkan posisi duduk
menutupi rasa grogi. Ketika ingatan itu menerawang jauh, tiba-tiba terpecah
dengan teriakan ibu. “Duulll, Noh ada temennya dateng,” bangkit dan keluar dari
kamar. Menemui beberapa teman yang sudah menunggui di depan rumah. “Dul, ayo
berangkat,” ucap seorang teman. Masuk kembali ke dalam kamar, mengambil
catatan, memasukkan ke dalam tas dan bergegegas pergi. “Buu
, Dul pergi dulu,”
, Dul pergi dulu,”
Selama
di perjalanan, perkataan itu terus saja terngiang. Memburu ingatan, mencoba
membandingkan pengalaman dalam teori. Dan akhirnya pecahlah perdebatan hebat
dalam diri. Perdebatan antara akal dan hati..... (*)

No comments:
Post a Comment