PADA umur sepuluh tahun, aku suka
melompati jendela kamar ketika datang malam, kemudian tidur telentang di
belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir tentang apa saja tanpa rasa takut
bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran Ibu. Aku seirng
berpikifr mestinya ibu tidak usah membeciku. Akan lebih baik sekiranya ia
mencintaiku seperi ibu-ibu yang lain mencintai anaknya. Tetapi rupanya ibu
lebih suka membenciku.
Perseteruanku
dengan ibu sudah di mulai bahkan ketika usiaku baru empat bulan dalam
kandungannya. Ibu menghendaki supaya aku jangan pernah nongol sama sekali dari
rahimnya. Ia menyorongkan segala jenis obat-obatan ke dalam perutnya untuk
menggodam kepalaku, melubangi paru-paruku, melemahkan jantungku, dan meracuni
pertumbuhanku di dalam rahimnya. Karena itulah aku justru berdoa sepanjang
siang sepanjang malam agar di beri kekuatan untuk bertahan dari upaya-upayanya
memberangus kehadiranku. Selain, aku juga meminta pertolongan kepada teman-temanku
–Mahkluk –mahkluk putih yang diperintahkan untuk menjagaku- agar mereka
membantu menahan gempuran gempuran yang di lancarkan perempuan itu.
“Kau
pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku?” tanyaku kepada mereka.
“Ia
takut melahirkan serigala,” jawab salah satu.
“Ia
menganggapku seekor serigala?”
“Perempuan
itu mendapatkanmu dari jalanan.”
“Karena
itu aku di anggapnya serigala?”
“Karena
itu kau di anggapnya serigala.”
Itu
bukan salahku. Aku ingin memproes. Tetapi temanku bilang bahwa perempuan itu
tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya tidak ingin membesarkan
benih yang menerobos masuk ke dalam rahimnya dari pipa lelaki jalanan.
“Tapi
itu salahnya!” jeritku. “Ia sendiri menyukai jalanan. Bukankah ia selalu melenggang di daeerah-daerah di
mana lelaki menggelapar sembarangan tempat?”
Aku
membayangkan beribu-ribu lelaki menggelepar di semak-semak, bagai ular yang
sedang mengintip mangsa mungkin ibuku di pagut ular-ular itu, lalu tumbuhlah
rahim di dalam rahimnya. Tumbuhlah aku.
Mungkin
karena malu perutnya makin besar, ibuku lalu merontokkan benih itu. Alangkah
jahatnya, bagaimanapun aku harus lahir, tidak pedli bentukku nanti seperti apa.
Bila sudah kuat badanku, akan kutampar ibuku agar tahu kesalahannya.
Teman-temanku
membangun benteng yang liat untuk melindungiku. Di depan benteng itu mereka
berjaga-jaga sekuat-kuatnya mereka menghalau racun yang membidik nyawaku. Meski
benteng melindungiku sangat kukuh, dan teman-temanku tak pernah lalai menjagau,
kadang-kadang ada juga racun yang lolos dan menyentuh kulitku. Tubuhku panas
sekali dan mataku pedih setiap kali ibuku menjebloskan obat kedalam perutnya
dari hari ke hari obat yang di telannya semakin kuat.
“Kelihatannya
aku tak mampu lagi melindungimu,” kata mahkluk putihh suatu ketika. “Tapi aku
tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Aku
terharu oleh kesetiannya. Temanku itu memang kelihatannya sudah kepayahan.
Tubuhnya yang putih mulai berubah kebiru-biruan. Tapi teman yang baik tidak
pernah menghitung keselamatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya. Temanku yang
satu lagi masih lumayan. Dia lebih kuat daya tahannya. Hanya kepalanya saja
yang agak pening.
“Ku
harap kau ssendiri masih kuat,” katanya kepadaku. “Tinggal setengah bulan
lagi.”
Setengah
bulan terlalu lama. Tiga hari setelah itu aku memberontak keluar dari perut
ibu. Ku bilang kepada teman-temanku, aku sduah tidak kuat lagi. Kuminta mereka
untuk mendesakku keluar.
“Kau
siap?” Tanya mereka.
“Mungkin
tidak. Tapi ia terus menghujaniku dengan
racun. Aku ingin keluar saja,” jawabku.
Mereka
mendorongku keluar. Tangisku merobek nyali ibu. Ia pingsan setelah
melahirkanku. Kepalakau tidak bagus bentuknya, kedua mataku melotot besar, dan
tanganku panjang sebelah. Setelah siuman, ibu membesarkanku dengan rasa marah.
Ia menjadi angin putting belliung yang membanting-banting aku. Aku merasa
kesepian karena mahkluk-mahkluk putih tidak lagi berada di sebelahku.
Ku
pikir mereka kembali ke langit. Karena itu ketika malam jatuh, aku suka
melompati jendela dan tidur-tiduran di belakang rumah memandang langit. Aku
rinduk kepada teman-teman yang mejnagaku. Mungkin satu ketika mereka akan
tampak di antara bintang-bintang. Melompat-lompat dari bintang satu ke bintang
yang lain. Kepada bintang-bintang di langit aku berpesan. “Bila kalian melihat
teman-temanku, suruh mereka datang ke rumah. Masuk saja lewat atap rumah,
jangan sampai ketahuan Ibu.”
Setelah
berpesan demikian biasanya aku masuk lagi lewat jendela yang sama. Di kamar, ku
benturkan pandanganku pada langit-langit ruangan sambil berharap teman-temanku
akan meluncur dari bubungan atap menemuiku. Tapi biasanya di langit-langit
kamar aku hanya bisa menemukan kecoak. Kau tahu, mahkluk ini tidak pernah
menjadi teman bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sudi berteman dengan
kecoak; ia selalu mencopot sandalnya jika elihat seekor kecoak melintas dan
memukul-mukulkan sandal di tangannya sampai binatang itu pecah tertampar
sandal.
“Kenapa
kau tidak melakukan protes?” tanyaku padanya suatu hari.
“Apa
yang bisa diprotes?” ia balik bertanya dengan nada sengit.
“Kalian
selalu dibunuh tanpa salah.”
“Karena
kami kecoak.”
“Begitukah?”
“Kau
juga kecoak.”
“Aku
manusia.”
“Bagi
ibumu, kau adalah kecoak.”
“Kau
menghinaku. Ibuku menganggap aku serigala.”
“Kau
hanyalah kecoak.”
“Aku
ingin membunuhmu karena kau menghinaku.”
Aku
betul-betul ingin membunuhnya. Sebab kecoak tidak boleh menghina manusia. Aku
melesat ke langit-langit memburu kecoak itu. Ia terbang. Aku meompat dari
tempat tidur, dari meja ke dinding, dan kemudian dari dinding ke dinding.
Kecoak dan aku saling berkejaran menimbulkan sauara berdebam-debam.
Ibu
mendobrak daun pintu kamarku dan menghantamkan caci maki ke telingaku. Mulutnya
menyemburkan badai dan bau alcohol. Sebetulunya aku ingin bilang padanya,
“Kenapa ibu selalu datang membawa badai kepadaku?” tapi badai tak pernah bisa
disela oleh pertanyaan apapun. Ditamparnya aku dengan sandal hingga
terpelanting. Kecoak yang kuburu terbang keluar kamar.
Ibu
tidak pernah tahu bahwa aku selalu rindu kepadanya. Bila aku mmau, sebetulnya
bisa saja aku menyelinap ke kamarnya ketika dia tidur, lalu kucekik batang
lehernya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Aku orang yangrindu. Rindu kepada
siapa saja. Kepada bintang-bintang, kepada kecoak di langit-langit kamar,
kepada mahkluk-mahkluk putih yang telah menyelematkanku, dan kepada tangan ibu.
Aku
rindu tangan ibu diatas dahiku, kemudian tangan itu bergerak pelan-pelan
mengelusku sampai aku tertidur. Tidak pernah ia melakukan itu. Rasa rindu
menjadi racun yang menyumbat jalan darahku. Kadang-kadang napasku terasa sesak.
Mungkin racun itu telah menyumbat jalan napasku.
Aku
juga rindu kepada ular-ular. Salah satu dari mereka pasti bapakku. Aku ingin
menyapa mereka dan mengatakan, “Selamat pagi, pak ini aku anakmu. Kulihat
rambutmu sudah banyak beruban. Aku ingin mencabuti ubanmu agar kau kelihatan
lebih muda. Atau kau ingin ku bikinkan minuman?”
Ibu
tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa di panggil bapak kepadaku.
Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu
adalah bapakku, aku akan sangat berbahagia. Mungkin ia seorang laki-laki yang
suka membunuh perempuan dan menghisap air liurnya agar memperoleh kesaktian,
atau mungkin ia orang yang suka menampar orang ketika mabuk. Tak apalah. Yang
penting ada orang yang bisa ku panggil bapak. Aku sudah mempersiapkan diri
untuk memangggil bapak kepada siapapun yang di bawa oleh ibu.
http://arfaneffendikolom.blogspot.com//





