Sunday, May 18, 2014

Menggambar Ayah



A.S Laksana
            PADA umur sepuluh tahun, aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam, kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir tentang apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran Ibu. Aku seirng berpikifr mestinya ibu tidak usah membeciku. Akan lebih baik sekiranya ia mencintaiku seperi ibu-ibu yang lain mencintai anaknya. Tetapi rupanya ibu lebih suka membenciku.

Perseteruanku dengan ibu sudah di mulai bahkan ketika usiaku baru empat bulan dalam kandungannya. Ibu menghendaki supaya aku jangan pernah nongol sama sekali dari rahimnya. Ia menyorongkan segala jenis obat-obatan ke dalam perutnya untuk menggodam kepalaku, melubangi paru-paruku, melemahkan jantungku, dan meracuni pertumbuhanku di dalam rahimnya. Karena itulah aku justru berdoa sepanjang siang sepanjang malam agar di beri kekuatan untuk bertahan dari upaya-upayanya memberangus kehadiranku. Selain, aku juga meminta pertolongan kepada teman-temanku –Mahkluk –mahkluk putih yang diperintahkan untuk menjagaku- agar mereka membantu menahan gempuran gempuran yang di lancarkan perempuan itu.


“Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku?” tanyaku kepada mereka.

“Ia takut melahirkan serigala,” jawab salah satu.

“Ia menganggapku seekor serigala?”

“Perempuan itu mendapatkanmu dari jalanan.”

“Karena itu aku di anggapnya serigala?”

“Karena itu kau di anggapnya serigala.”

Itu bukan salahku. Aku ingin memproes. Tetapi temanku bilang bahwa perempuan itu tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya tidak ingin membesarkan benih yang menerobos masuk ke dalam rahimnya dari pipa lelaki jalanan.

“Tapi itu salahnya!” jeritku. “Ia sendiri menyukai jalanan. Bukankah  ia selalu melenggang di daeerah-daerah di mana lelaki menggelapar sembarangan tempat?”

Aku membayangkan beribu-ribu lelaki menggelepar di semak-semak, bagai ular yang sedang mengintip mangsa mungkin ibuku di pagut ular-ular itu, lalu tumbuhlah rahim di dalam rahimnya. Tumbuhlah aku.

Mungkin karena malu perutnya makin besar, ibuku lalu merontokkan benih itu. Alangkah jahatnya, bagaimanapun aku harus lahir, tidak pedli bentukku nanti seperti apa. Bila sudah kuat badanku, akan kutampar ibuku agar tahu kesalahannya.

Teman-temanku membangun benteng yang liat untuk melindungiku. Di depan benteng itu mereka berjaga-jaga sekuat-kuatnya mereka menghalau racun yang membidik nyawaku. Meski benteng melindungiku sangat kukuh, dan teman-temanku tak pernah lalai menjagau, kadang-kadang ada juga racun yang lolos dan menyentuh kulitku. Tubuhku panas sekali dan mataku pedih setiap kali ibuku menjebloskan obat kedalam perutnya dari hari ke hari obat yang di telannya semakin kuat.

“Kelihatannya aku tak mampu lagi melindungimu,” kata mahkluk putihh suatu ketika. “Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Aku terharu oleh kesetiannya. Temanku itu memang kelihatannya sudah kepayahan. Tubuhnya yang putih mulai berubah kebiru-biruan. Tapi teman yang baik tidak pernah menghitung keselamatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya. Temanku yang satu lagi masih lumayan. Dia lebih kuat daya tahannya. Hanya kepalanya saja yang agak pening.

“Ku harap kau ssendiri masih kuat,” katanya kepadaku. “Tinggal setengah bulan lagi.”

Setengah bulan terlalu lama. Tiga hari setelah itu aku memberontak keluar dari perut ibu. Ku bilang kepada teman-temanku, aku sduah tidak kuat lagi. Kuminta mereka untuk mendesakku keluar.

“Kau siap?” Tanya mereka.

“Mungkin tidak. Tapi ia terus menghujaniku dengan  racun. Aku ingin keluar saja,” jawabku.

Mereka mendorongku keluar. Tangisku merobek nyali ibu. Ia pingsan setelah melahirkanku. Kepalakau tidak bagus bentuknya, kedua mataku melotot besar, dan tanganku panjang sebelah. Setelah siuman, ibu membesarkanku dengan rasa marah. Ia menjadi angin putting belliung yang membanting-banting aku. Aku merasa kesepian karena mahkluk-mahkluk putih tidak lagi berada di sebelahku.

Ku pikir mereka kembali ke langit. Karena itu ketika malam jatuh, aku suka melompati jendela dan tidur-tiduran di belakang rumah memandang langit. Aku rinduk kepada teman-teman yang mejnagaku. Mungkin satu ketika mereka akan tampak di antara bintang-bintang. Melompat-lompat dari bintang satu ke bintang yang lain. Kepada bintang-bintang di langit aku berpesan. “Bila kalian melihat teman-temanku, suruh mereka datang ke rumah. Masuk saja lewat atap rumah, jangan sampai ketahuan Ibu.”

Setelah berpesan demikian biasanya aku masuk lagi lewat jendela yang sama. Di kamar, ku benturkan pandanganku pada langit-langit ruangan sambil berharap teman-temanku akan meluncur dari bubungan atap menemuiku. Tapi biasanya di langit-langit kamar aku hanya bisa menemukan kecoak. Kau tahu, mahkluk ini tidak pernah menjadi teman bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sudi berteman dengan kecoak; ia selalu mencopot sandalnya jika elihat seekor kecoak melintas dan memukul-mukulkan sandal di tangannya sampai binatang itu pecah tertampar sandal.

“Kenapa kau tidak melakukan protes?” tanyaku padanya suatu hari.

“Apa yang bisa diprotes?” ia balik bertanya dengan nada sengit.

“Kalian selalu dibunuh tanpa salah.”

“Karena kami kecoak.”

“Begitukah?”

“Kau juga kecoak.”

“Aku manusia.”

“Bagi ibumu, kau adalah kecoak.”

“Kau menghinaku. Ibuku menganggap aku serigala.”

“Kau hanyalah kecoak.”

“Aku ingin membunuhmu karena kau menghinaku.”

Aku betul-betul ingin membunuhnya. Sebab kecoak tidak boleh menghina manusia. Aku melesat ke langit-langit memburu kecoak itu. Ia terbang. Aku meompat dari tempat tidur, dari meja ke dinding, dan kemudian dari dinding ke dinding. Kecoak dan aku saling berkejaran menimbulkan sauara berdebam-debam.

Ibu mendobrak daun pintu kamarku dan menghantamkan caci maki ke telingaku. Mulutnya menyemburkan badai dan bau alcohol. Sebetulunya aku ingin bilang padanya, “Kenapa ibu selalu datang membawa badai kepadaku?” tapi badai tak pernah bisa disela oleh pertanyaan apapun. Ditamparnya aku dengan sandal hingga terpelanting. Kecoak yang kuburu terbang keluar kamar.

Ibu tidak pernah tahu bahwa aku selalu rindu kepadanya. Bila aku mmau, sebetulnya bisa saja aku menyelinap ke kamarnya ketika dia tidur, lalu kucekik batang lehernya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Aku orang yangrindu. Rindu kepada siapa saja. Kepada bintang-bintang, kepada kecoak di langit-langit kamar, kepada mahkluk-mahkluk putih yang telah menyelematkanku, dan kepada tangan ibu.

Aku rindu tangan ibu diatas dahiku, kemudian tangan itu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur. Tidak pernah ia melakukan itu. Rasa rindu menjadi racun yang menyumbat jalan darahku. Kadang-kadang napasku terasa sesak. Mungkin racun itu telah menyumbat jalan napasku.

Aku juga rindu kepada ular-ular. Salah satu dari mereka pasti bapakku. Aku ingin menyapa mereka dan mengatakan, “Selamat pagi, pak ini aku anakmu. Kulihat rambutmu sudah banyak beruban. Aku ingin mencabuti ubanmu agar kau kelihatan lebih muda. Atau kau ingin ku bikinkan minuman?”

Ibu tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa di panggil bapak kepadaku. Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu adalah bapakku, aku akan sangat berbahagia. Mungkin ia seorang laki-laki yang suka membunuh perempuan dan menghisap air liurnya agar memperoleh kesaktian, atau mungkin ia orang yang suka menampar orang ketika mabuk. Tak apalah. Yang penting ada orang yang bisa ku panggil bapak. Aku sudah mempersiapkan diri untuk memangggil bapak kepada siapapun yang di bawa oleh ibu.
Tapi orang yang bisa kupanggil bapak itu tak pernah datang. Agaknya ibu tidak pernah berpikir untuk memberiku seorang bapak. Maka aku membikin sendiri bapakku.

http://arfaneffendikolom.blogspot.com//

Wednesday, March 5, 2014

Mencari makna

Terhanyut sepi. itulah yang di rasakan Dul. Terpaku di sudut ruang enam kali empat meter. Meja paling belakang dari bentuk leter L. Dentingan jam terus bergerak tanpa interupsi. menelusuri angka demi angka dari tiap angka, Semakin malam, jarum jam tepat pukul dua puluh tiga malam lewat. Kantor begitu sepi yang hanya ada Dul. Aneh memang, Di jam Dua puluh malam, Kebanyakan pegawai memang sudah pulang, berbeda halnya dengan Dul. Ia lembur, ada beberapa berkas yang harus di selesaikan, dan esok pagi harus sudah terselesaikan.

Berhadapan Layar komputer, mata sayup-sayup ingin terpejam. Mungkin jika dilihat beban sudah tergantung barbel empat puluh kilo. memutar otak untuk terus fokus, tangan beradu kecepatan diiringi bunyi keyboar. tak, tak, tak, tak, seolah mengeluarkan alunan simfoni dari maestro ternama.

beberapa menit kemudian. Akhirnya Dul menyerah. mengalihkan pandangan pada jam dinding. Jarum jam terpaku di angka dua belas. mendekati pagi dinihari beberapa berkas belum juga kunjung selesai. Berniat untuk memberhentikan semua pekerjaan, dan melanjutkannya esok pagi, tapi Diurungkan. langsung terbayang wajah direktur yang ditemuinya siang tadi. Nampak di ujung pelupuk matanya sesosok wajah garang nan menyeramkan. jika digambarkan di sebuah kanvas akan terlihat dan terbentuk seperti siluman kodok bunting.

Huuaahhh. Mulutnya menganga menguap, mengeluarkan aroma tidak sedap. bangkit dari kursi, melangkah menuju  Dapur kantor. Mungkin segelas kopi bisa merefreskan otak. setelah berjam-jam bertarung dengan berkas-berkas. menghitung enjualan akhir bulan ini. Dul adalah seorang sarjana lulusan manajemen ekonomi. Selepas Lulus, Ia langsung melamar sebuah pekerjaan, dan ditempatkan di bagian keuangan. mengurus, mengatur, dan menghitung kegiatan keuangan baik itu pengeluaran, Pemasukkan dan berbagai lainnya yang berkaitan keuangan perusahaan.

mengaduk segelas kopi dengan pandangan kosong. melangkah kembali menuju tempatnya semula. meletakkan gelas dan menyandarkan tubuh. menatap langit-langit penuh kekosongan. dalam otaknya terbayang ambisi sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Dahulu, Dul begitu berambisi, menjadi aktifis, memperjuangkan hak-hak kaum tertindas. Demo sana sini, berorasi penuh lantang. Tiga semester ia terus mengulang karena kegiatan Ekstra kampusnya. terbengkalai begitu saja, hingga akhirnya Dul memutuskan untuk fokus dan segera menyelesaikan kuliahnya. Meninggalkan aktifitas yang berbau aktifis. setelah menyusun skripsi, Sidang, wisuda, dan akhirnya Jadilah ia menjadi seorang sarjana ekonomi. Abdul Madjid SE, Terpampang gelar ketika membuat kartu tanda penduduk di kelurahan.

Entah kerasukan roh atau apa. ia kembali berhadapan layar lima belas inci. mengarahkan kursor Mouse Membuka lembaran kosong. ia tidak melanjutkan Berkas yang harus di selesaikan, melainkan ia mengetik kata demi kata mencari makna dari sebuah kalimat, hingga akhirnya berevolusi sebuah gagasan dalam hidupnya. Keep Move! 


Wednesday, February 12, 2014

Teori Vs Perasaan


Lelaki itu masih tersudut dalam kamarnya. Terbaring di atas kasur, sesekali menarik nafas dalam. Menghentakkan lelah setelah melalui perjalanan hari ini. Ruang lima kali enam meter itu begitu nyaman. Tampak beberapa macam buku di rak pojok kamar. Mengedarkan pandangan, mencoba menerka beberapa potong kisah dari rak buku. Melihat, meneliti, dari satu buku ke buku lain. Bangkit sejenak, mengambil sebuah buku. Tidak ada nafsu untuk membaca, ia letakkan kembali buku itu pada rak. Beralih pandangan pada tasnya. Merogoh dalam, mengambil sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Membaca hasil wawancara tadi. Terbersit untuk mengerjakan sebuah berita, menyalakkan laptopnya. Tetapi di urungkan, rasa-rasanya ia sedang tidak bernafsu untuk melakukan aktifitas. Membaringkan tubuh ke atas kasur, membenamkan pikiran dalam bantal. Menatap langit-langit ruang, terputar sebuah kipas angin.


Pikirannya melayang jauh ke luar. Bermain-main ke rumah kenangan. Sesekali Dul tersenyum, dan sesekali wajahnya berubah pahit. Tiba-tiba terngiang pembicaraan dengan salah seniornya. Diskusi kecil di sebuah perjalanan. “Jadi, menurut kaca mata sosiologi. Ketika mazhab Frangkurt terjadi. Romantisme bangsa  adalah bukan mengingat yang manis. Tetapi romantisme bangsa itu mengingat kepahitan dalam kekacauan sebuah negara. Yang akhirnya terjadi persatuan. Dan dengan mengingat kepahitan itu memaksa masyarakat untuk ‘move on’  menuju masa depan bangsa yang indah. loe mana bisa move on kalo inget yang manis bukan yang pahit.” tutur Basith. Sejenak ku berfikir. Dan menerka apa yang dituturkannya. Menerka lebih rinci, mendalami dengan membandingkan apa yang dialaminya. Tidak seperti biasanya ia berbicara seperti itu. Ah! Setelah menelisik, melihat dari beberapa status bbm’a ternyata ia sedang galau. Haha! Dalam hati kecil ku tertawa puas. Melihat kegalauan senior. “Haha, ciye yang lagi move on,” ku balas dengan candaan. Mendengar itu, raut wajahnya berubah. Ia pun membalasnya. “Lho, lho, gua ngasih tau, kan elu yang baru diputusin trus galau jangan gitu dong,”  ku tertegun, membenarkan posisi duduk menutupi rasa grogi. Ketika ingatan itu menerawang jauh, tiba-tiba terpecah dengan teriakan ibu. “Duulll, Noh ada temennya dateng,” bangkit dan keluar dari kamar. Menemui beberapa teman yang sudah menunggui di depan rumah. “Dul, ayo berangkat,” ucap seorang teman. Masuk kembali ke dalam kamar, mengambil catatan, memasukkan ke dalam tas dan bergegegas pergi. “Buu
, Dul pergi dulu,”



Selama di perjalanan, perkataan itu terus saja terngiang. Memburu ingatan, mencoba membandingkan pengalaman dalam teori. Dan akhirnya pecahlah perdebatan hebat dalam diri. Perdebatan antara akal dan hati..... (*)








Perjalanan Dalam Sunyi


Malam bergeming, kesenyapan menghantarkan tiap orang semakin terlelap. Terhanyut kesunyian dan tenggelam dalam semudera mimpi. Tapi meski jarum jam terus bergerak, menunjuk waktu semakin pagi. Ada mata yang belum terpejam, dan menemukan ketenangan dalam hening.

Di sudut kamar, di ruang enam kali tujuh meter itu ada seseorang yang duduk terpaku. Di depan meja belajar, berhadapan dengan sebuah buku. Meski orang lain terlelap, berbeda dengan orang itu. Melewati malam berganti siang, dan malam lagi. Ia tidak pernah tidur di malam hari, bahkan di siang hari pun ia hanya tidur dua jam saja selepas itu tidak tidur lagi hingga malam tiba. Entah di mulai sejak kapan ia begadang, tetapi semenjak kejadian itu ia tidak pernah tidur.

            Di depan wajahnya ada sebuah buku, matanya sesekali menyipit membaca isi buku itu. Dan sesekali ia tersenyum sembari mengangguk pelan. Semakin dalam ia terhanyut dalam buku itu, semakin ia menikmati kesunyian malam. Cantik Itu Luka sebuah judul yang tergenggam di tangannya, novel karangan Eka Kurniawan tertulis di buku itu. Semakin lama semakin terhanyut, bahkan ia seperti menikmati sebuah perjalanan wisata.

Sesudah membaca novel itu ia menutup dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Menatap langit-langit ruang. Tersenyum tipis merasa puas sehabis menikmati sebuah kisah. Otaknya mencoba menerawang. Kisah seorang perempuan yang telah dua puluh tahun dimakamkan, bangkit dari kuburannya seperti terbangun dari tidur. Dewi Ayu. Perempuan paling cantik di pulau Halimunda di paksa menjadi seorang pelacur di masa kolonial. Terlahir dari keluarga bangsawan. Ibu dan ayahnya adalah seorang belanda dan juga kakak beradik. Cinta yang sudah semakin karat di kedua hati mereka memaksa untuk melanjutkan hubungan itu. meski satu darah, kedua orang itu tetap tidak perduli. Akhirnya selepas Dewi Ayu lahir. Ayah dan ibunya tidak mengurusnya, melainkan meletakkan Dewi ayu di depan pintu rumah kakeknya. Ibu dan ayahnya pergi tanpa alasan, mereka meninggalkan Dewi Ayu begitu saja.

Dewi Ayu semakin tumbuh dewasa dan cantik. Waktu itu di masa kolonial, belanda terdesak perang dan kalah oleh jepang. Halimunda pun diduduki tentara jepang. Semua orang belanda menjadi tahanan perang. Ketika Dewi Ayu ingin pergi bersama semua orang belanda, ia menolaknya. Dewi Ayu beralasan bahwa ia adalah orang pribumi, buka orang belanda. Jika tentara jepang menangkapnya ia berpikir tidak akan di jadikan tahanan, paling hanya di jadikan gundik. Setelah melewati masa itu akhirnya Dewi Ayu pun dipaksa menjadi seorang pelacur. Melayani nafsu birahi tentara jepang. Melahirkan tiga orang putri, yang entah tidak diketahui siapa bapaknya. Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Ketiga anak perempuan ini semakin tumbuh seiring waktu berjalan. Dan kecantikkan tiga anak itu sama dengan kecantikan ibunya. Dewi Ayu merasa ada penyesalan melahirkan anak perempuan yang cantik, hingga ia bersumpah jikalau Dewi Ayu melahirkan anak perempuan ia berharap anak itu buruk rupa. Dan benar saja, ketika anak keempat Dewi Ayu lahir langsung menamakan Cantik. Anak itu nampak buruk rupa, orang lain saja jika melihatnya merasa takut. Bahkan tetangganya pun jika mendapati anak mereka bandel, mereka akan berkata “Kalau kamu bandel, kamu akan di makan sama si Cantik,” Meskipun ia bernama Cantik tapi wajahnya buruk rupa. Cantik Itu Luka merupakan bentuk permisivitas Dewi Ayu dari gambaran sebuah pemahaman chaos. Melahirkan teks perempuan tanpa membuat perempuan dalam dunianya tampil sebagai laki-laki dalam bungkus perempuan. Dan sebagai bentuk pemberontakan mainstream umum.

Ketika sedang menyelami cerita itu, Laki-laki itu tersentak dari tempat duduknya. Melihat jam dinding tepat pukul setengah lima. Adzan subuh lamat-lamat terdengar dari berbagai tempat. Sahut menyahut dari tempat satu ke yang lain. Lantas ia bangkit dan pergi untuk melaksanakan kewajibannya. Selepas Shalat, ketika orang lain terbangun dari mimpinya, ia berbeda malah beranjak tidur. Masuk ke dalam mimpi untuk sementara waktu. Beristirahat dan terbangun untuk melanjutkan aktifitas di siang hari.(*)


Tuesday, February 4, 2014

Kubah

Review
            Sampai di dekat pintu keluar, Karman gagap dan tertegun. Menoleh ke kanan dan ke kiri seakan ia sedang di tonton oleh seribu pasang mata. Kertas-kertas itu di pegang dengan hati-hati dan tangan bergetar. Karman yakin seluruh hidupnya tergulung-gulung seperti kertas yang di pegangnya. Bahkan pada saat itu Karman merasa totalitas dirinya tidak semahal apa yang digenggamnya.
            Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman, meski ukuran tubuhnya tidak terlalu kecil, saat itu merasa menjadi rayap yang berjalan di antara barisan lembu. Waktu berjalan ke barat sepanjang dili-dili itu Karman sebenarnya teramat tersiksa. Merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Tatapan mata yang berpapasan dengannya terasa sangat menyiksa. Oh, andaikan ada secuil tempat untuk bersembunyi, mungkin Karman akan menyembunyikan diri karena pembebasan dirinya yang belum mampu mengembalikan dia dari keterasingan.
            Dan tak lama kemudian lelaki berusia 42 tahun itu mendapatkan tempat apa yang diinginkannya, sebuah tempat yang enak untuk duduk, di bawah pohon beringin alun-alun Kabupaten.
            Beringin besar di pojok alun-alun itu akan memayungi wilayah kecil sepi dan sejuk. Maka siapa pun yang berada di sana bisa duduk terkantuk dan terlelap mimpi. Tetapi Karman tidak sama sekali terpengaruh dengan kesejukkan di pojok alun-alun itu dan pikirannya sudah lebih jauh menerawang sampai ke kampungnya, tiga kilometer dari tempat di mana kini ia bisa duduk. Boleh jadi pegaten, kampung halamannya, juga sudah banyak yang berubah. Boleh jadi semuanya menjadi bertambah baik. Tetapi Karman tidak tertarik untuk memikirkannya.
            Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Marni. Istri atau mantan istri dua belas tahun lalu. Secara resmi Karman belum bercerai, tetapi Marni sudah menikah dengan laki-laki lain. Parta, seorang teman sekampungnya.
            Karman teringat dengan nasihat Kapten Somad sewaktu di pengasingan. “Mari kita mulai sekarang. Sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara ketiga cobaan; sulit mendapatkan rezeki, keehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Dan kurasa kau merasakan itu, jadi mari kita mulai sekarang, memulai hidup baru..” Karman terngiang dengan nasihat itu.
            Ketika berada di pengasingan, Karman sangat gembira mendapat sepucuk surat dari Marni. Terlihat dari raut wajahnya ia merindukan seseorang yang dicintainya. Tetapi raut wajah bahagia itu pudar tergantikan dengan mendung, seolah awan hitam datang dan menurunkan hujan deras. Jauh dari pengasingan, terpisah jarak bahkan pulau. Marni mengirimkan surat cerai untuk Karman. Marni perempuan berusia tiga puluh tahun tentu saja masih segar. Setelah suaminya ditangkap, lalu di asingkan ke Pulau Buru, menjadi Tahanan Politik. Laki-laki mana yang tega membiarkan perempuan secantik Marni sendirian, di tambah dengan kebutuhan hidup untuk anak-anaknya. Dan disitulah Marni menikah dengan Parta setelah menceraikan istrinya. Padang sangat mengerikan, asing dan Karman merasa seorang diri. Hidupnya runtuh kehilangan semangat. Hari demi hari Karman menjalaninya dengan penuh hampa. Di Pulau Buru bak seperti Neraka di muka bumi tempat terakhir ia hidup di bumi.
            Tiba-tiba Karman terbangun dari mimpinya. Tak terasa sudah begitu lama ia terlelap. Melihat matahari mulai condong ke ufuk barat. Karman bangkit, dan menyusuri jalan dari Gang ke Gang. Berjalan ke timur, hingga sudah berputar dua kali di alun-alun. Karman masih bingung entah ke mana ia pergi. Ia hanya menuruti langkah kakinya yang rapuh menyusuri jalan demi jalan.
            Di tengah langkah yang rapuh Karman berpapasan dengan serombongan anak kecil. Mereka berkopiah dan berkain sarung, lucu menawan, dan berjalan hiruk pikuk. Tanpa kesadarn penuh Karman memutar balik mengikuti serombongan itu menuju Serambi Masjid. Tetapi Karman mendadak berhenti, gagap. Termangu. Dua-Tiga orang melewatinya, hingga akhirnya lelaki tua menepuk pundaknya dari belakang. “Mari pak, sudah Iqamah,”
            Selesai salam, menoleh ke kanan dan ke kiri. Masing-masing orang mulai berjabat tangan satu dengan yang lain. Karman melihat setiap wajah dengan biasa, tetapi Karman tersentuh hatinya ketika berjabat tangan sembari melempar senyum yang tulus. Karman terdiam sejenak, senyum dan menjabat sepenuh hati. Hati kecil Karman terketuk, meski senyum tak apalah, senyum tanda keramahan yang berarti bagiku. Oh, senyum, dan tetap tersenyum.
            Karman melangkah keluar Serambi Masjid untuk pulang. Pulang? kemana aku akan pulang. mungkinkah pulang ke rumah yang dahulu. Tetapi rumah yang dulu sudah bukan lagi rumahku. Itu rumah Marni dan di sana ada suaminya. Rasanya tidak mungkin jika pulang ke sana. Lalu kemana kah ku akan pulang. Karman terus bertanya-tanya dalam hati.
            Karman kembali duduk termangu, terasing seperti benda langit yang jatuh ke bumi. Di perlukan waktu beberapa menit untuk menemukan apa yang di tuju. Dan setelah itu, Karman memantapkan untuk pergi ke rumah Gono, sepupunya yang tidak jauh dari tempat Karman berada. Melangkah dengan mantap menuju Rumah Gono. (*)
                                                                        ***
            Berawal geger tahun 1965, sekelompok orang yang menamai diri mereka dengan Partai Komunis Indonesia berusaha membuat negara ini menjadi negara revolusi. Ketika keadaan politik yang memanas, ada salah pemuda yang menjadi tahanan politik lalu di asingkan. Belasan tahun sudah dan kini bebas, sebebas-bebasnya. Untuk beberapa saat ia bingung akan pulang kemana. Langkah gontai kaki semakin rapuh. Istri yang teramat dicintai telah menikah lagi dengan laki-laki yang juga teman sekampungnya. Rumah, sawah, keluarga, dan yang dimilikinya telah hilang termakan zaman.
            Karman, terlahir dari keluarga tercukupi. Ayah seorang mantri dapat menghidupi kebutuhannya di kala itu. namun kebahagiaan itu terenggut sewaktu pasukan jepang menjajah. Semua kebahagiaan sirna, hingga akhirnya Sang Ayah menjadi seorang pejuang. Dan tak pernah kembali pulang ke rumah. dan Karman menjadi yatim. Menjadi anak yang bekerja keras, menjadi tulang punggung keluarga hingga membuat Haji Bakir merasa iba. menjadikan Karman seorang pekerja. Haji Bakir menyekolahkannya hingga Sekolah Dasar. Berselang dengan Paman Hasyim pulang ke kampung. Setelah menjadi pejuang Hisbullah dan gejolak politik yang stabil Pulang ke Pegaten. Paman Hasyim seolah bertanggung jawab atas masa depan Karman. Dan akhirnya ia bersekolah hingga tamat SMP. Karman ingin sekali meneruskan sekolah sampai ke jenjang tertinggi, tetapi takdir berkata lain. Paman Hasyim tidak mampu membiyayainya. Karman berinisiatif bekerja.
            Untuk sementara waktu Karman bekerja pada Haji Bakir sebagai supir truk. Sesekali mencari kerjaan menjadi pegawai, karena pada waktu itu lulusan SMP masih bisa terhitung oleh jari. Datanglah Triman dan Margo, Triman salah satu anggota partai komunis menyamar menjadi ketua partai Partindo. Menyusup di desa Pegaten, mencari pemuda untuk dijadikan kader anggota partai.dan Margo,menyamar sebagai guru.
            Usia yang semakin matang membuat Karman ingin meminang Rifah putri Haji Bakir. Tetapi sayang Rifah sudah dilamar oleh Abdul Rahman, laki-laki dari kampung seberang. Karman beranggapan Haji Bakir menolak Karman dengan beralasan Rifah telah dilamar duluan. Karman menjadi orang yang paling membenci Haji Bakir. Di tambah lagi oleh Margo dan Triman, mencuci otak karman dengan segala tipuannya. Kebencian Karman memuncak hingga pelan-pelan kewajiban seorang muslim ditinggalnya.
            Karman mulai kehilangan jati dirinya, Paman Hasyim baru menyadari akan perubahan Karman. Pemuda lugu, pekerja keras, berubah menjadi keras kepala, angkuh dan pendendam. Akibat doktrin-doktrin komunis merubah semua kehidupan Karman.
            1 oktober 1965, seluruh warga Desa Pegaten terkejut. Situasi politk pun memanas, dari daerah ke suatu daerah anggota partai komunis di tangkap. Dan Karman pun di tangkap juga.kemudian di asingkan ke Pulau Buru.

            Dua belas tahun sudah berlalu. Kini situasi Desa Pegaten kembali seperti sedia kala. Tetapi Karman masih di gelayuti oleh rasa bersalah terhadap semua yang dahulu baik kepadanya, mulai dari Haji Bakir, Paman Hasyim. Karman mengira ia tidak akan diterima setelah tragedi politik yang menyebabkan dirinya diasingkan. Tetapi salah, semua diluar dugaan, istri yang dikira mencampakkan begitu saja, datang menemui mantan atau suami yang belum cerai secara sah. Ada satu hal yang tidak pernah diduga oleh Karman, yaitu Tini. Anak perempuannya ternyata menjalin cinta dengan Jabir putra tunggal dari Syarifah, perempuan yang dahulu akan dipinang, perempuan yang dahulu bermain bersama, perempuan yang dilindungi oleh Karman ketika akan diseruduk oleh domba qurban milik Haji Bakir. Karman masih tetap tidak mengira akan menjadi keluarga besar. kebencian memuncak, hilang tergerus waktu, hingga akhirnya kebencian itu tertutupi oleh jalinan cinta Tini dan Jabir.





Pawang Hujan, Tuhan dan pertarungan yang remis

A.S :Laksana “20 cerpen terbaik”
FAKTA pertama, gadis itu cantik dan itu membuat Alit kikuk dan itu membuatnya tiba-tiba menyadari betapa pentingya bakat. Fakta berikutnya, para penjual motivasi selalu mengatakan kepadamu bahwa untuk menjadi ini dan itu kau tidak memerlukan bakat. Alit pernah meyakininya ketika ia memutuskan belajar sulap, tetapi belakangan ia tidakterlalu percaya bujukan itu. ia kembali yakin pada bakat. “Jika bakatmu pawang kera.” Katanya, “Kau pasti akan lebih beruntung menjadi pawang kera ketimbang memaksakan diri menjadi penulis atau menjadi tukang ketik. Dan jika kau mengembangkan diri menurut bakatmu, suatu saat kau bahkan bisa meningkatkan diri menjadi pawang gorila.”
            Gadis itu sedikit kusam, mungkin karena pakaian yang dikenakannya sudah lapuk dan warnanya pudar, mungkin karena rambutnya awut-awutan belum dikeramas, atau mungkin ia memang tidak terlalu perduli dengan penampilan ---usianya baru tiga belas. Alit merasa yakin bahwa matanya masih awas untuk membedakan antara cantik dan tidak. Seorang gadis cantik akan tetap membuat matamu terpaku sekalipun pada waktu itu ia mengenakan pakaian yang belum dicuci tiga hari atau ia belum mengeramas rambutnya dalam sebulan terakhir. Dan jika kau merasa kikuk tanpa sebab pada pertemuan pertama, itulah barangkali yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Alit berusia 24 tahun dan sebenarnya sudah beberapa kali kikuk.
            Kecantikkan gadis itu bertahan dipelupuk mata Alit hingga bertahun-tahun kemudian dan Alit yakin kecantikkan, seperti halnya bakat, adalah anugerah Tuhan. Berkat adis itu, Alit sadar bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki bakat menjadi tukang sulap. Alasannya sepele, seorang tukang sulap semestinya tidak akan bertindak kikuk ketika menyadari ada gadis sedikit kusam di tengah orang-orang yang menonton atraksinya.
            Ternyata ia lebih berbakat menjadi pawang hujan dan ia baru tahu setelah enam tahun menyulap dan berkali-kali gagal menghibur anak-anak dengan permainan sulapnya. Di antara enam tahun menyulap, ia pernah membadut dan mendapati siksaan paling menggiriskan ketka membanyol di markas tentara. Selama pertunjukan, yang berlangsung satu jam namun terasa seperti bertahun-tahun, para [rajurit terus memasang tampang sangat kaku seperti ketika mereka sedang berbaris. Kurasa Alit akan sangat berterima kasih seandainya saat itu ada tentara yang mendadak gila dan menembaknya tepat di jantung. Namun itu tak terjadi dan ia harus terus membadut, melewati menit-menit terberat dalam hidupnyam tanpa ditertawai. Di puncak kesengsaraan, ketika ia membungkukkan badan mengakhiri badutannya, sang komandan bertepuk tanga dan setelah itu barulah para prajurit rendah ikut bertepuk tangan.
            Demikianlah, tanpa bakat yang memadai ia kembali menyulap, sampai ia disadarkan oleh kehadiran gadis kusam yang membuatnya kikuk.seminggu sesudah kejadian itu ia berhenti menyulap dan pada hari kedelapan ia merasa terdorong menjadi pawang hujan. dorongan itu mula-mula muncul ketika ia meyaksikan seorang pawang hujan bekerja pada pesta pernikahan tetangganya dan keesokan harinya ia merasakan dorongan itu menguat.
            “Aku ingin belajar mengusir hujan padamu,” kata Alit ketika isa datang menemui pawang itu di rumahnya.
            “Tidak sulit jika kau punya bakat,” kata orang tua itu, suaranya menysusup dari celah gusi-gusi yang sudah gundul.
            “Aku tak tahu bakatku,” kata Alit.
            Lelaki itu menatap anak muda di depannya, seperti memeriksa susunan tulang belulang rangkanya.
            “Tampaknya kau punya bakat,” katanya.
            Ali percaya pada kata-katanya: ia pawang sakti dan, kau tahu, tampangnya seperti setan.
                                                                        ***
            BAHKAN sebelum orang itu menurunkan ilmunya, A;it sudah membayangkan dirinya mengendalikan awan-awan di langit, memanggil atau mengusirnya atau menjadikannya payung yang melindunginya dari panas matahari. Saat memikirkan itu, tiba-tiba ia merasa sayang untuk melepas keahliannya sebagai tukang sulap sekalipun ia nanti sudah mewarisi ilmu si pawang hujan. Ia merasa bahwa atraksi mengendalikkan awan-awan di langit akan menjadi pertunjukkan luar ruang yang ampuh. Ia akan membuat awan-awan saling mencakar seperti anak-anak kucing atau melenggok selucu banci. Dan mestinya tak sulit-sulit amat bagi pesulap ampuh untuk memikat gadis cantik berpenampilan kusam.
            Namun, seperti memergoki pikiran Alit, si pawang mengingatkan bahwa seorang pawang pantan mempermainkan awan, apalagi untuk tujuan-tujuan atraksi. Peringatan itu membuat Alit memperbaiki silanya dan menunduk. “Aku hanya ingin sesekali di payungi awan,” katanya.
            “Kalau begitu kau pulang saja,” kata si pawang.
            Alit tetap menunduk dan tidak pulang. Si tua meninggalkannya, menoleh ke arah Alit ketika ia berada di pintu kamarnya. “Hanya nabi yang berjalan dipayungi awan,” katanya. “Jika kau melakukan hal itu, orang-orang akan menganggapmu nabi palsu,”
            Ia masuk kamar dan tak keluar-keluar.
            Keesokan harinya Alit datang lagi ke rumah orang itu dan mengatakan bahwa ia siap melupakan atraksi sulapnya. Mungkin susah menduga apakah Alit berbohong atau tidak dengan pernyataannya. Tetapi pawang tua itu menerimanya dan tujuh bulan kemudian, ketika si tua sekarat di tempat tidurnya, Alit untuk kali pertama bekerja mengusir hujan. Penampilan pertamanya berjalan sempurna meski ia masih tersendat-sendat merapalkan mantra. Beberapa minggu kemudian ia lebih tersendat-sendat karena matanya menemukan lagi si cantik yang awut-awutan di antara orang-orang mengerumuninya. Ia hampir merasa tidak berbakat lagi, tetapi pada penampilan ketiga dan seterusnya ia lancar sekali merapalkan mantra dan menunjukkan bakat cemerlangnya mengusir hujan. Si tua benar tentang bakat Alit dan ia mati seminggu setelah muridnya melakukan pekerjaan keempat. Maka penampilan kelima Alit adalah menghadapi awan-awan yang datang menyesaki pemakaman gurunya. Kau tahu, mereka seperti kaum usiran yang kembali untuk merayakan kematian orang yang selama hidup mencampakkan mereka. Pertarungan berlangsung alot dan Alit akhirnya mampu mengusir barisan awan yang datang untuk membenamkan jenazah si pawang tua.
            Mewarisi ilmu si tua, Alit menapaki tujuh tahun perjalanan cemerlangnya sebagai pawang hujan. Lalu gadis kusam itu, yang kini sudah matang, kembali membuatnya payah. Alit hampir berusia 32 tahun saat itu dan pada hari Sabtu sore ia melihat si gadis usianya sudah hampir 21 , tampak seperti bidadari yang di jatuhi kutukan. Kau tahu, gadis itu menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak pantas untuk di bilang jodohnya, seorang duda tua dan Alit diminta mengusir hujan pada pesta pernikahan mereka. Alit merapalkan mantra dengan rahang kaku dan tenggorokan panas---mungkin saat itu ia tampak sangan memalukan.
            Ia ingin sekali mendatangkan hujan deras semalaman untuk menggagalkan pesta pernikahan gadis itu. tentu saja ia tidak melakukannya; itu akan menyalahi sumpahnya sebagai pawang hujan dan itu bukan tindakan terpuji. Tetapi apa ada gunanya mempertahanan sumpah dan tindakan terpuji jika gadis itu jatuh ke tangan duda tua?
                                                                        ***
UNTUK kali pertama selama menjalani kepawangan, ia merasa Tuhan telah memberinya bakat yang keliru, atau bakat yang tak ada gunanya. Dengan bakat cemerlangnya menghalau awan-awan, ia toh tidak mampu memikat gadis yang membuatnya kikuk sejak pandangan pertama. Padahal, ia merasa sudah dekat dengan gadis itu.
            Dalam empat tahun terakhir mereka memang selalu bersama dan gadis itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadanya. Tiga tahun setelah Alit berhenti menyulap, kau tahu, gadis itulah yang kemudian naik panggung; ia mengubah dirinya saat itu juga menjadi bidadari yang luwes memainkan pelbagai tipuan sulap. O, ia benar-benar pandai menipu dan selalu mengenakan pakaian yang tampaknya kekecilan. Para lelaki menyukai tipuannya dan tertantang oleh pakaian yang dikenakannya. Dan Alit, dengan penuh kasih kepada si gadis, mengusir hujan setiap kali gadis itu naik panggung.
            “Terima kasih, ya,” kata gadis itu suatu kali ketika ia selesai manggung.
            Alit menjawab, “Sama-sama,” dan memantapkan tekadnya untuk selalu menjaga panggung gadis dari serbuan hujan.
            “Dulu aku terpukau pada permainanmu,” kata gadis itu.
            “Aku tidak berbakat,” kata Alit.
            “Kau pesulap yang hebat,” kata gadis itu. “Aku merasa kehilangan ketika kau menjadi pawang hujan. Karena itu aku lantas berlatih; aku harus memainkannya sendiri sebab tak mungki lagi melihat sulapmu.”
            Lihatlah, gadis itu memiliki segala kualitas terbaik sebagai perempuan: ia cantik, dan ia tahu cara berbohong yang baik. Alit tidak terlalu percaya apa yang diucapkannya, tetapi ia senang mendengarnya.
            “Kau lebih berbakat menulap dan aku lebih cocok seoerti sekarang,” kata Alit. “Aku senang jika kau bisa melindungi panggungmu dari guyuran hujan.”
            Alit pernah diam-diam mengutuk dirinya sendiri karena panggung gadis itu ambruk pada penampilan pertamanya. Penamplan itu sekaligus menjadi pengalaman paling menyedihkan yang pernah dialami oleh gadis itu di atas panggung. Hujan turun begitu deras dan angin kencang dan Alit berjarak seratus kilometer lebih dari panggung itu. Sebatang pohon besar menimpa panggung. Gadis itu meloncat dan jatuh dan tidak bisa menyulap beberapa waktu karena tangannya terkilir.
            “Maafkan aku tidak mendampingimu,” katanya dalam hati ketika ia melihat gadis itu melintas di kejauhan beberapa hari setelah kejadian.”Lain kali aku tak akan pernah meninggalkanmu.”
            Dan Alit menepati ucapannya. Bahkan pada hari-hari kalutnya ketika ia melihat gadis itu mulai sering didekati oleh si duda tua, Alit tak pernah meninggalkannya. Ia tidak menyukai lelaki itu---orang-orang mengatakan bahwa dia seorang politikus, menurut Alit ia hanyalah seorang bandot. Dan keduanya, baik politikus maupun bandot, sangatlah mudah jatuh cinta, namun Alit tidak percaya bahwa bidadariya akan jatuh cinta pada bandot tua yang mendekatinya. Ia terus mempercayai gadis itu sampai kepercayaan itu akhirnya berubah menjadi rasa tegang di tengkuk ketika gadis itu mulai makin sering dengan si duda.
                                                                        ***
            SUNGGUH Tuhan telah memberinya bakat yang tidak berguna, bakat yang tak mampu menarik gadis pujaannya, bakat yang tak mampu menyelamatkan gadis itu dari pesona si bandot. Sungguh Tuhan telah membuat keputusan yang keliru karena menjodohkan gadis pujaannya dengan bandot itu. Maka, tak ada jalan lain, Tuhan dan keputusan-Nya yang keliru harus di lawan.
            Tuhan telah menyakitinya dalam urusan perjodohan, maka Alit memutuskan bertarung dengan Tuhan di wilayah lain yang Dia merasa paling berkuasa---soal kematian. Ia bersumpah tak akan pernah membiarkan kematiannya menjadi urusan Tuhan; ia hanya mau mati karena ia sendiri yang menghendaki kematiannya. Karena itu pada suatu malam ia terjun dari jembatan, menenggelamkan diri di sungai keruh. Dan ia tidak mati.
            Pasti ada yang tak beres dalam pertarungan ini. Alit yakin bahwa ia mestinya sudah mati malam itu---artinya ia menang---tetapi Tuhan telah bertindak curang dengan cara mengirimkan malaikat berupa pengemis untuk menggagalkan upayanya. Pertarungan berakhir remis. Ia tidak mati oleh kehendaknya sendiri dan Tuhan pun tidak mengambil nyawanya setelah meninggalkan upayanya membunuh diri sendiri.
            Setelah pertarungan yang remis itu, Alit tidak pernah lagi mencabut nyawanya sendiri. Dua hari ia di rawat oleh pengemis. Pada hari ketiga ia meninggalkan san ututsan itu dan berjalan sepanjang sungai ke arah hulu da di sebuah dataran tinggi ia merencanakan lagi pertarungan berikutnya.
            Dulu tuhan pernah menurunkan hujan 40 hari dan mengirimkan banjir menenggelamkan pucuk gunung. Ia yakin bisa menumbangkan rekor itu dengan menurunkan hujan 41 hari, tetapi ia tidak ingin melakukan itu. Cukup baginya menurunkan hujan selama dua hari di hulu sungai dan banjir akan menyapu kolong jembatan dan menyeret pengemis utusan Tuhan ke lautan. Cukup pula baginya jika banjir itu menghajar bandot tua dan gadis pesulap yang sedang berbulan madu. Keduanya memang bukan utusan Tuhan, tetapi pernikahan mereka adalah kekeliruan. Dan, menurutnya, keputusan yang keliru tak pantas dibiarkan.
            Maka ia memilih tengah malam untuk merapalkan mantranya. Tetapi ia tertidur sebelum tengah malam dan pagi harinya aku hannya menemukan diriku sendiri di hulu sungai. Pada hal aku sangat menyetujui rencananya, dan kurasa tak akan sulit baginya untuk menghidangkan mayat tiga orang itu kepada ikan-ikan kecil dan mengirimkan nyawa mereka kepada Tuhan.
            “Biar Tuhan dan ikan-ikan tahu bahwa aku tidak menukai keputusan yang keliru dan pertarungan yang curang,” katanya sebelum tidur.

            Aku turun dari hulu sungai pada siang hari dan tak pernah menemukan Alit hingga sekarang. Aku tsendiri, kau tahu, hanyalah tukang sulap yang tidak berbakat dan tak menguasai tipuan untuk menurunkan hujan. Kini aku masih menunggu kedatangannya. Bagaimanapun, aku tetap ingin melihat ia menghanyutkan pengemis utusan Tuhan dan politikus bandot maupun gadis pesulap yang bukan urusan Tuhan. (*)