A.S :Laksana “20 cerpen terbaik”
FAKTA
pertama, gadis itu cantik dan itu membuat Alit kikuk dan itu membuatnya
tiba-tiba menyadari betapa pentingya bakat. Fakta berikutnya, para penjual
motivasi selalu mengatakan kepadamu bahwa untuk menjadi ini dan itu kau tidak
memerlukan bakat. Alit pernah meyakininya ketika ia memutuskan belajar sulap,
tetapi belakangan ia tidakterlalu percaya bujukan itu. ia kembali yakin pada
bakat. “Jika bakatmu pawang kera.” Katanya, “Kau pasti akan lebih beruntung
menjadi pawang kera ketimbang memaksakan diri menjadi penulis atau menjadi
tukang ketik. Dan jika kau mengembangkan diri menurut bakatmu, suatu saat kau
bahkan bisa meningkatkan diri menjadi pawang gorila.”
Gadis itu sedikit kusam, mungkin
karena pakaian yang dikenakannya sudah lapuk dan warnanya pudar, mungkin karena
rambutnya awut-awutan belum dikeramas, atau mungkin ia memang tidak terlalu
perduli dengan penampilan ---usianya baru tiga belas. Alit merasa yakin bahwa
matanya masih awas untuk membedakan antara cantik dan tidak. Seorang gadis
cantik akan tetap membuat matamu terpaku sekalipun pada waktu itu ia mengenakan
pakaian yang belum dicuci tiga hari atau ia belum mengeramas rambutnya dalam
sebulan terakhir. Dan jika kau merasa kikuk tanpa sebab pada pertemuan pertama,
itulah barangkali yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Alit berusia
24 tahun dan sebenarnya sudah beberapa kali kikuk.
Kecantikkan gadis itu bertahan
dipelupuk mata Alit hingga bertahun-tahun kemudian dan Alit yakin kecantikkan,
seperti halnya bakat, adalah anugerah Tuhan. Berkat adis itu, Alit sadar bahwa
sesungguhnya ia tidak memiliki bakat menjadi tukang sulap. Alasannya sepele,
seorang tukang sulap semestinya tidak akan bertindak kikuk ketika menyadari ada
gadis sedikit kusam di tengah orang-orang yang menonton atraksinya.
Ternyata ia lebih berbakat menjadi
pawang hujan dan ia baru tahu setelah enam tahun menyulap dan berkali-kali
gagal menghibur anak-anak dengan permainan sulapnya. Di antara enam tahun
menyulap, ia pernah membadut dan mendapati siksaan paling menggiriskan ketka
membanyol di markas tentara. Selama pertunjukan, yang berlangsung satu jam
namun terasa seperti bertahun-tahun, para [rajurit terus memasang tampang
sangat kaku seperti ketika mereka sedang berbaris. Kurasa Alit akan sangat
berterima kasih seandainya saat itu ada tentara yang mendadak gila dan
menembaknya tepat di jantung. Namun itu tak terjadi dan ia harus terus
membadut, melewati menit-menit terberat dalam hidupnyam tanpa ditertawai. Di
puncak kesengsaraan, ketika ia membungkukkan badan mengakhiri badutannya, sang
komandan bertepuk tanga dan setelah itu barulah para prajurit rendah ikut
bertepuk tangan.
Demikianlah, tanpa bakat yang
memadai ia kembali menyulap, sampai ia disadarkan oleh kehadiran gadis kusam
yang membuatnya kikuk.seminggu sesudah kejadian itu ia berhenti menyulap dan
pada hari kedelapan ia merasa terdorong menjadi pawang hujan. dorongan itu
mula-mula muncul ketika ia meyaksikan seorang pawang hujan bekerja pada pesta pernikahan
tetangganya dan keesokan harinya ia merasakan dorongan itu menguat.
“Aku ingin belajar mengusir hujan
padamu,” kata Alit ketika isa datang menemui pawang itu di rumahnya.
“Tidak sulit jika kau punya bakat,”
kata orang tua itu, suaranya menysusup dari celah gusi-gusi yang sudah gundul.
“Aku tak tahu bakatku,” kata Alit.
Lelaki itu menatap anak muda di
depannya, seperti memeriksa susunan tulang belulang rangkanya.
“Tampaknya kau punya bakat,”
katanya.
Ali percaya pada kata-katanya: ia
pawang sakti dan, kau tahu, tampangnya seperti setan.
***
BAHKAN
sebelum orang itu menurunkan ilmunya, A;it sudah membayangkan dirinya
mengendalikan awan-awan di langit, memanggil atau mengusirnya atau
menjadikannya payung yang melindunginya dari panas matahari. Saat memikirkan
itu, tiba-tiba ia merasa sayang untuk melepas keahliannya sebagai tukang sulap
sekalipun ia nanti sudah mewarisi ilmu si pawang hujan. Ia merasa bahwa atraksi
mengendalikkan awan-awan di langit akan menjadi pertunjukkan luar ruang yang ampuh.
Ia akan membuat awan-awan saling mencakar seperti anak-anak kucing atau
melenggok selucu banci. Dan mestinya tak sulit-sulit amat bagi pesulap ampuh
untuk memikat gadis cantik berpenampilan kusam.
Namun, seperti memergoki pikiran
Alit, si pawang mengingatkan bahwa seorang pawang pantan mempermainkan awan,
apalagi untuk tujuan-tujuan atraksi. Peringatan itu membuat Alit memperbaiki
silanya dan menunduk. “Aku hanya ingin sesekali di payungi awan,” katanya.
“Kalau begitu kau pulang saja,” kata
si pawang.
Alit tetap menunduk dan tidak
pulang. Si tua meninggalkannya, menoleh ke arah Alit ketika ia berada di pintu
kamarnya. “Hanya nabi yang berjalan dipayungi awan,” katanya. “Jika kau
melakukan hal itu, orang-orang akan menganggapmu nabi palsu,”
Ia masuk kamar dan tak
keluar-keluar.
Keesokan harinya Alit datang lagi ke
rumah orang itu dan mengatakan bahwa ia siap melupakan atraksi sulapnya.
Mungkin susah menduga apakah Alit berbohong atau tidak dengan pernyataannya.
Tetapi pawang tua itu menerimanya dan tujuh bulan kemudian, ketika si tua
sekarat di tempat tidurnya, Alit untuk kali pertama bekerja mengusir hujan.
Penampilan pertamanya berjalan sempurna meski ia masih tersendat-sendat
merapalkan mantra. Beberapa minggu kemudian ia lebih tersendat-sendat karena
matanya menemukan lagi si cantik yang awut-awutan di antara orang-orang
mengerumuninya. Ia hampir merasa tidak berbakat lagi, tetapi pada penampilan
ketiga dan seterusnya ia lancar sekali merapalkan mantra dan menunjukkan bakat
cemerlangnya mengusir hujan. Si tua benar tentang bakat Alit dan ia mati
seminggu setelah muridnya melakukan pekerjaan keempat. Maka penampilan kelima
Alit adalah menghadapi awan-awan yang datang menyesaki pemakaman gurunya. Kau
tahu, mereka seperti kaum usiran yang kembali untuk merayakan kematian orang
yang selama hidup mencampakkan mereka. Pertarungan berlangsung alot dan Alit
akhirnya mampu mengusir barisan awan yang datang untuk membenamkan jenazah si
pawang tua.
Mewarisi ilmu si tua, Alit menapaki
tujuh tahun perjalanan cemerlangnya sebagai pawang hujan. Lalu gadis kusam itu,
yang kini sudah matang, kembali membuatnya payah. Alit hampir berusia 32 tahun
saat itu dan pada hari Sabtu sore ia melihat si gadis usianya sudah hampir 21 ,
tampak seperti bidadari yang di jatuhi kutukan. Kau tahu, gadis itu menikah
dengan lelaki yang sama sekali tidak pantas untuk di bilang jodohnya, seorang
duda tua dan Alit diminta mengusir hujan pada pesta pernikahan mereka. Alit
merapalkan mantra dengan rahang kaku dan tenggorokan panas---mungkin saat itu
ia tampak sangan memalukan.
Ia ingin sekali mendatangkan hujan
deras semalaman untuk menggagalkan pesta pernikahan gadis itu. tentu saja ia
tidak melakukannya; itu akan menyalahi sumpahnya sebagai pawang hujan dan itu
bukan tindakan terpuji. Tetapi apa ada gunanya mempertahanan sumpah dan
tindakan terpuji jika gadis itu jatuh ke tangan duda tua?
***
UNTUK kali
pertama selama menjalani kepawangan, ia merasa Tuhan telah memberinya bakat
yang keliru, atau bakat yang tak ada gunanya. Dengan bakat cemerlangnya
menghalau awan-awan, ia toh tidak mampu memikat gadis yang membuatnya kikuk
sejak pandangan pertama. Padahal, ia merasa sudah dekat dengan gadis itu.
Dalam empat tahun terakhir mereka
memang selalu bersama dan gadis itu berkali-kali mengucapkan terima kasih
kepadanya. Tiga tahun setelah Alit berhenti menyulap, kau tahu, gadis itulah
yang kemudian naik panggung; ia mengubah dirinya saat itu juga menjadi bidadari
yang luwes memainkan pelbagai tipuan sulap. O, ia benar-benar pandai menipu dan
selalu mengenakan pakaian yang tampaknya kekecilan. Para lelaki menyukai
tipuannya dan tertantang oleh pakaian yang dikenakannya. Dan Alit, dengan penuh
kasih kepada si gadis, mengusir hujan setiap kali gadis itu naik panggung.
“Terima kasih, ya,” kata gadis itu
suatu kali ketika ia selesai manggung.
Alit menjawab, “Sama-sama,” dan
memantapkan tekadnya untuk selalu menjaga panggung gadis dari serbuan hujan.
“Dulu aku terpukau pada
permainanmu,” kata gadis itu.
“Aku tidak berbakat,” kata Alit.
“Kau pesulap yang hebat,” kata gadis
itu. “Aku merasa kehilangan ketika kau menjadi pawang hujan. Karena itu aku
lantas berlatih; aku harus memainkannya sendiri sebab tak mungki lagi melihat
sulapmu.”
Lihatlah, gadis itu memiliki segala
kualitas terbaik sebagai perempuan: ia cantik, dan ia tahu cara berbohong yang
baik. Alit tidak terlalu percaya apa yang diucapkannya, tetapi ia senang
mendengarnya.
“Kau lebih berbakat menulap dan aku
lebih cocok seoerti sekarang,” kata Alit. “Aku senang jika kau bisa melindungi
panggungmu dari guyuran hujan.”
Alit pernah diam-diam mengutuk
dirinya sendiri karena panggung gadis itu ambruk pada penampilan pertamanya.
Penamplan itu sekaligus menjadi pengalaman paling menyedihkan yang pernah
dialami oleh gadis itu di atas panggung. Hujan turun begitu deras dan angin
kencang dan Alit berjarak seratus kilometer lebih dari panggung itu. Sebatang
pohon besar menimpa panggung. Gadis itu meloncat dan jatuh dan tidak bisa
menyulap beberapa waktu karena tangannya terkilir.
“Maafkan aku tidak mendampingimu,”
katanya dalam hati ketika ia melihat gadis itu melintas di kejauhan beberapa
hari setelah kejadian.”Lain kali aku tak akan pernah meninggalkanmu.”
Dan Alit menepati ucapannya. Bahkan
pada hari-hari kalutnya ketika ia melihat gadis itu mulai sering didekati oleh
si duda tua, Alit tak pernah meninggalkannya. Ia tidak menyukai lelaki
itu---orang-orang mengatakan bahwa dia seorang politikus, menurut Alit ia
hanyalah seorang bandot. Dan keduanya, baik politikus maupun bandot, sangatlah
mudah jatuh cinta, namun Alit tidak percaya bahwa bidadariya akan jatuh cinta
pada bandot tua yang mendekatinya. Ia terus mempercayai gadis itu sampai
kepercayaan itu akhirnya berubah menjadi rasa tegang di tengkuk ketika gadis
itu mulai makin sering dengan si duda.
***
SUNGGUH Tuhan telah memberinya bakat
yang tidak berguna, bakat yang tak mampu menarik gadis pujaannya, bakat yang
tak mampu menyelamatkan gadis itu dari pesona si bandot. Sungguh Tuhan telah
membuat keputusan yang keliru karena menjodohkan gadis pujaannya dengan bandot
itu. Maka, tak ada jalan lain, Tuhan dan keputusan-Nya yang keliru harus di
lawan.
Tuhan telah menyakitinya dalam urusan
perjodohan, maka Alit memutuskan bertarung dengan Tuhan di wilayah lain yang
Dia merasa paling berkuasa---soal kematian. Ia bersumpah tak akan pernah
membiarkan kematiannya menjadi urusan Tuhan; ia hanya mau mati karena ia
sendiri yang menghendaki kematiannya. Karena itu pada suatu malam ia terjun
dari jembatan, menenggelamkan diri di sungai keruh. Dan ia tidak mati.
Pasti ada yang tak beres dalam
pertarungan ini. Alit yakin bahwa ia mestinya sudah mati malam itu---artinya ia
menang---tetapi Tuhan telah bertindak curang dengan cara mengirimkan malaikat
berupa pengemis untuk menggagalkan upayanya. Pertarungan berakhir remis. Ia
tidak mati oleh kehendaknya sendiri dan Tuhan pun tidak mengambil nyawanya
setelah meninggalkan upayanya membunuh diri sendiri.
Setelah pertarungan yang remis itu,
Alit tidak pernah lagi mencabut nyawanya sendiri. Dua hari ia di rawat oleh
pengemis. Pada hari ketiga ia meninggalkan san ututsan itu dan berjalan
sepanjang sungai ke arah hulu da di sebuah dataran tinggi ia merencanakan lagi
pertarungan berikutnya.
Dulu tuhan pernah menurunkan hujan
40 hari dan mengirimkan banjir menenggelamkan pucuk gunung. Ia yakin bisa
menumbangkan rekor itu dengan menurunkan hujan 41 hari, tetapi ia tidak ingin
melakukan itu. Cukup baginya menurunkan hujan selama dua hari di hulu sungai
dan banjir akan menyapu kolong jembatan dan menyeret pengemis utusan Tuhan ke
lautan. Cukup pula baginya jika banjir itu menghajar bandot tua dan gadis
pesulap yang sedang berbulan madu. Keduanya memang bukan utusan Tuhan, tetapi
pernikahan mereka adalah kekeliruan. Dan, menurutnya, keputusan yang keliru tak
pantas dibiarkan.
Maka ia memilih tengah malam untuk
merapalkan mantranya. Tetapi ia tertidur sebelum tengah malam dan pagi harinya
aku hannya menemukan diriku sendiri di hulu sungai. Pada hal aku sangat
menyetujui rencananya, dan kurasa tak akan sulit baginya untuk menghidangkan
mayat tiga orang itu kepada ikan-ikan kecil dan mengirimkan nyawa mereka kepada
Tuhan.
“Biar Tuhan dan ikan-ikan tahu bahwa
aku tidak menukai keputusan yang keliru dan pertarungan yang curang,” katanya
sebelum tidur.
Aku turun dari hulu sungai pada
siang hari dan tak pernah menemukan Alit hingga sekarang. Aku tsendiri, kau
tahu, hanyalah tukang sulap yang tidak berbakat dan tak menguasai tipuan untuk
menurunkan hujan. Kini aku masih menunggu kedatangannya. Bagaimanapun, aku
tetap ingin melihat ia menghanyutkan pengemis utusan Tuhan dan politikus bandot
maupun gadis pesulap yang bukan urusan Tuhan. (*)

Wynn Hotel and Casino - Mapyro
ReplyDeleteFind Wynn Hotel and Casino locations, rates, amenities: 아산 출장안마 expert Las 강원도 출장마사지 Vegas research, 춘천 출장마사지 only at 속초 출장샵 Hotel and Travel 아산 출장마사지 Index. Realtime driving directions to Wynn Hotel and Casino,