Eka
Kurniawan '20 cerpen terbaik'
Kenapa pula aku tak
mengajaknya bertemu di China Town, pikir Mei. Ia masih berada di belakang
kemudi mobil yang disewanya dari Budget di sekitar bandara seharga 30 dollar
sehari. Biasanya ia pergi dengan meminjam mobil milik sepupu atau bibinya,
tetapi hari ini kedua mobil tersebut tengah dipakai, dan merekahanya bisa
mengantarnya ke penyewaan. Telah lama sebenarnya ia berpikir untuk memiliki
mobil sendiri, harganya sepertiga dari harga di jakarta, tetapi masih punya persoalan
keterbatasan garasi.
Mei belum juga berhenti. Ia sudah dua kali mengelilingi
Jack in the Box dan dari kaca jendela ia bisa melihat Effendi duduk menantinya.
Ia juga bisa melihat seorang pengemis berkeliling diantara pengunjung restoran.
Ia hanya memperlambat laju mobil tanpa menghentikannya, bersiap mengelilingi
Jack in the Box untuk kali ketiga. Mencoba menepis kebosanan menunggu, ia
mencoba mendengarkan “Bad Day” yang dinyanyikan Daniel Powter dari salah satu
radio AM.
Lalu ia memandangi wajahnya di kaca spion tengah. Ia
terlihat agak gugup. Setelah 1998, pikirnya, ini kali pertama aku akan bertemu orang dari Jakarta. Kata
sepupunya, kini wajahnya terlihat lebih terang daripada saat kali pertama
datang ke Amerika. Ia tak terlalu menyadarinya. Barangkali karena ia terlalu
sering melihat wajahnya, tak terlihat perubahan apapun. Ada sejumput rambut
keluar dari topi Los Angeles Dodgers-nya, yang di pasang agak miring. Mei
menyibakkan rambutnya ke balik telinga.
Ia kembali melintasi bagian depan restoran tersebut, dan
melihat Effendi masih melahap burgernya. Begitu pula pengemis tersebut. Saat
itulah telepon genggamnya sekonyong berbunyi. Mei menoleh, ternyata itu dari
sepupunya. Ia mengangkat telepon.
“Gimana? Udah ketemu cowok itu?” Mei tak langsung
menjawab.
Ujung matanya melirik ke arah Effendi dari kejauhan.
“Belum,” gumamnya.
Sebelum sepupunya mengatakan apa pun, ia segera
menambahkan, “Tetapi, aku sudah melihatnya. Ia berada dalam restoran, sedang
melahap burger. Aku masih di mobil,
mungkin menunggu ia selesai makan dan keluar dari sana.”
“Kenapa kamu enggak menghampirinya?”
Lagi-lagi Mei tak langsung menjawab, malah terdengar
suara desah nafasnya.
Ia mengigit bibirnya, menimbang apakah ia akan menjawab
sejujurnya kenapa ia tidak juga menemui lelaki itu, atau coba berdalih
mengatakan hal lain. di ujung sana, terdengar desah nafas menunggu, seolah tahu
Mei akan mengatakan sesuatu. Akhirnya Mei membuka mulut kembali.
“Ada pengemis direstoran.”
“Apa?”
“Ada pengemis di..”
“Ya ampun, Mei. Ini di Amerika. Pengemis disini enggak sama de...” suara di sana tak
melanjutkan kalimat tersebut, seolah di sadarkan oleh sesuatu. Setelah bisu
sejenak, sepupunya menambahkan, “Maaf.”
“It’s OK,” kata Mei.
Meskipun begitu, sepupunya tampak tak yakin dengan ucapan
Mei. Ia tak bicara, tetapi tak juga ada tanda-tanda akan mengakhiri
pembicaraan. Namun, akhirnya kembali bertanya, “Mei kamu sungguh baik-baik aja?”
“Ya, aku baik-baik aja.”
Untuk kali pertama Effendi melihat pengemis masuk
restoran. Saat itu ia hendak makan siang di Jack in the Box, tempat ia akan
bertemu seorang perempuan yang diperkenalka oleh temannya. Sambil mengapit Los Angeles Times yang dibelinya seharga
25 sen dari kotak koran, ia duduk menunggu burger
pesanannya tersedia. Saat itulah si pengemis membuka pintu dan masuk. Pengemis
itu meracaukan sesuatu, dalam bahasa inggris yang terdengar aneh bagi Effendi.
Restoran cepat saji tersebut tengah penuh oleh para
pekerja serta anak-anak sekolah bersama para penggemar mereka. Yang
mengejutkannya, tak seorang pun pengunjung merasa terganggu oleh kehadiran
seorang pengemis. Tidak pula pelayan dan petugas kasir restoran. Pengemis itu
akan di seret petugas keamanan jika melakukannya di satu restoran cepat saji di
Jakarta, pikirnya. Bahkan di warung tegal pinggi jalan, pemilik warung akan
buru-buru memberinya receh, bukan sebab kehendak berderma, tetapi sejenis
perintah untuk segera meninggalkan warung. Tetapi, disini, di suatu sudut Los
Angeles, ia melihat seorang pengemis berkeliaran bebas di dalam restoran.
Effendi mencoba mengacuhkan kehadiran pengemis tersebut
dan berpikir tentang seperti apa perempuan kenalan yang akan ditemuinya. Ia
mencoba memikirkan apa yang dikatakannya jika perempuan itu muncul, “Hai, apa
kabar?” Atau, “Sudah lama tinggal di Los Angeles?” Ia masih memikirkan
cara-cara membuka percakapan, barangkali bertanya hal-hal praktis menjalani
kehidupan sehari-hari yang harus dipraktekkannya. Ia berharap perjumpaan mereka
akan terjadi sesederhana mungkin.
Pengemis itu menggendong buntalan gendut yang tampaknya
berisi seluruh kekayaannya. Rambut coklat terbakar, menggumpal, dan di
sana-sini tampaknya sudah menempel dengan kulit kepalanya. Si pengemis
menggunakan mantel Adidas yang tak lagi jelas warnanya, mungkin sumbangan dari
dinas sosial atau sejenisnya. Kakinya dilindungi sepatu boot yang masuk ke dalam celananya. Sejenak dipandanginya seluruh
isi restoran sebelum menghampiri dua orang supir truk yang tengah melahap
burger sambil berbincang di meja dekat pintu.
“Receh, Tuan?” Pengemis itu menyodorkan telapak
tangannya. Kali ini bahasa Inggrisnya jelas terdengar.
Semua pengemis menadahkan tangan, pikir Effendi. Ia
sedang melamun ketika nomor antreannya diteriakkan pelayan, membuatnya
tergeragap dan segera berdiri, berjalan menuju konter. Sambil menenteng nampan,
ia mengisi gelasnya dengan minuman soda sampai buihnya tumpah, dan kembali ke
meja. Ia tak lagi memerhatikan pengemis itu, matanya memandang ke kaca jendela.
Berharap melihat perempuan yang ditunggunya menyeberangi jalan. Tetapi,
perempuan itu belum juga muncul. Effendi segera melahap burgernya sambil
membuka lipatan koran.
Tiba-tiba pengemis itu telah berada disampingnya, dengan
telapak tangan terjulur ke arahnya. Ceracau mulutnya yang pertama-tama membuat
Effendi mendongak. Segera Effendi merogoh saku celana, mengeluarkan recehan. Ia
ingat di sana ada penny, dime, quarter.
Ia menyerahkan semua recehnya ke tangan si pengemis, setelah sebelumnya
menyelipkan dua quarter ke sakunya
yang lain, persediaan untuknya membeli koran esok pagi.
“Ku harap Tuan berjuma perempuan manis,” kata si
pengemis.
Ya, ya, doakan perempuan yang akan datang memang manis,
gumam Effendi. Bukankah Tuhan selalu mengabulkan doa orang-orang yang
teraniaya?
Effendi kembali melahap burgernya dan tak lagi perduli dengan pengemis tersebut.
***
Mei mengajaknya ke daerah Downtown. Berbelok dari
Freeway, mereka melaju menuju First Street dan Mei menunjukkan letak Music
Center, juga menunjukkan Dorothy Chandler Pavilion. Kata Mei. Selain di Shrine
Auditorium, penghargaan Oscar kadang dilaksanakn juga di sana. Mereka terus
melewati gedung-gedung berderet. Sepanjang perjalanan tersebut, entah kenapa,
justru Mei yang banyak bicara.
Mei sendiri sebenarnya agak terkejut menemukan dirinya
secerewet itu. mungkin itu cara bawah sadar mengatasi kegugupan. Mungkin aku
terlalu girang bertemu mahkluk dari Jakarta. Effendi hanya memandangi tamasya
melalui kaca jendela.
Dari First Dtreet mereka berbelok ke arah Grand Avenue,
berbelok lagi hingga melewati Little Tokyo, dan Effendi tak juga berbicara.
Litle Tokyo tampak lebih seperti mall dari pada sebuah pemukiman orang-orang
jepang. Di sepanjang jalan berderet, toko-toko suvenir, berselang dengan toko
buku, toko obat, serta toko kelontong aneka barang khas jepang. Di salah satu
sisi East First Street tampak gedung cantik yang ternyata Kuil Budhis Koyosan.
Saat itulah tiba-tiba Effendi berkata, “Tadi ada pengemis.”
“Mana?” tanya Mei agak terkejut sambil menoleh ke pinggir
jalan.
“Tadi, di Jack in the Box.”
Terdengar Mei mendesah lega. Ia hanya menoleh sekilas ke
arah Effendi sebelum memerhatikan jalan di depan yang agak padat. Mei berpikir
barangkali laki-laki itu sama gugupnya, hingga sekonyong berbicara tentang
pengemis yang ditemuinya. Seakan-akan tak hal penting lainnya di dunia ini,
gumamnya dalam hati. ia sedang berancang-ancang membicarakan keadaan di
Indonesia atau mengenai rencana program kuliah yang akan di ambil Effendi,
sebelum tiba-tiba ia berpikir barangkali melanjutkan perbincangan mengenai
pengemis bisa mencairkan keadaan.
“Aku juga melihatnya, pengemis itu,” kata Mei setelah
lama terdiam.
“Pengemis yang memakai mantel Adidas?”
“Ya.”
“Ayo kita cari pengemis itu?”
“Tidak. Tidak.” Mei memotong dengan cepat.
Penolakkan Mei demikian tiba-tiba membuat Effendi terdiam
dengan mulut terkatup. Ia kembali memandang tamasya ke luar jendela kaca mobil,
kali ini dengan tatapan gelisah, memandang lalu lalang orang di trotoar.
Menghindari daerah Skid Row yang tak terlalu nyaman, mereka kembali berbalik
arah. Effendi menoleh kearah Mei dengan sudut matanya, harus mengakui bahwa
perempuan itu tampak cantik, dengan rambut ekor kudanya menyembul dari bagian
belakang topi. Namun saat ini. Yang ada di kepalanya hanyalah pengemis dengan
buntalan gombal di Jack in the Box.
“Maaf soal tadi,” kata Mei tiba-tiba.
“Aku agak trauma dengan pengemis,”
“Ohh...?” Effendi tak tahu harus berkomentar apa.
Yang jelas, harapannya untuk mencari pengemis tadi serasa
sirna. Paling tidak, sangat jelas ia tak mungkin mengajak atau meminta bantua
Mei untuk mencarinya. Itu kembali membuat Effendi terdiam. Meski kali ini
matanya tak melayap ke pinggiran trotoar, Effendi tampak tenggelam dalam
pikirannya sendiri.
“Pengemis tadi penting, ya?” tanya Mei dengan hati-hati.
“Eh, Enggak,” Effendi tergeragap.
“Aku cuma heran ada pengemis di sini.”
Mei tertawa, namun mencoba menahan diri untuk tidak
menerangkan betapa salahnya apa yang dipikirkan kebanyakan orang mengenai
Amerika. Setelah tawanya reda, dengan suara nyaris berbisik, Mei berkata, “Tahun
1998 di Jakarta nyaris me...,” Mei tak melanjutkan kata-katanya, kebingungan.
“Gimana ya, aku mengatakannya?”
“Maaf.” Effendi nyaris terperanjat, mengerti apa yang
tidak dikatakan Mei. “Maaf.”
“Tak apa. Aku sudah jauh lebih baik.” Seperti anak
belasan tahun, Mei mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf “V”
sambil tersenyum.
Effendi membalas senyum tanpa suara itu. Kali ini mereka
sudah kembali ke Fifth Street dan melintasi Perpustakaan Pusat Los Angeles.
Gedungnya tampak aneh, sejenis percampuran gaya art deco murni dengan struktur kaca yang menjulang ke langit. Kedua
sayapnya dihiasi ornamen-ornamen eksentrik.
“Boleh aku menceritakan sesuatu?” tanya Effendi
tiba-tiba.
“Ya, ya?”
“Aku memberikan semua recehanku dan menyisakan dua quarter.”
Mei menoleh dan tersenyum. Menunggu Effendi melanjutkan
ceritanya. Effendi menahan nafas dan membuangnya perlahan. Ia berkata tanpa
menoleh ke arah Mei, “Aku tak sadar cincin kawinku ada di saku celana, dan
lenyap bersama receh-receh itu.”
Mei kembali menoleh dan berseru, “Apa? Bercanda, kan?
Cincin kawin?”
“Ya, Cincin kawin.” Effendi mengangguk sembari tersenyum
kecut. “Bagaimana bisa cincin kawin disimpan di saku celana?” tanya Mei sambil
melirik ke jari-jemari tangan Effendi. Jari-jemari itu memang polos belaka,
tanpa cincin kawin, hanya ada bekas coretan bolpen di jempol, serta tahi lalat
di jari telunjuk kiri.
Effendi tak berkata apa pun, bahkan tak menoleh Mei,
hanya memandang ke depan. Sisa senyum kecutnya masih membayang di bibirnya. Sekonyong
Mei mengerti situasinya. Perempuan itu tertawa tak tertahankan, seolah inilah
hari paling lucu sepanjang hidupnya. Ia mengguncang bahu Effendi dan
menghentikkan mobilnya di sisi kanan.
“Ya, ya, aku tahu,” kata Mei sambil menahan tawanya. “Aku
juga pernah kenal seorang lelaki yang mencopot cincin kawinnya setiap bertemu
perempuan baru.”
Effendi segera menghindari tatapan Mei, menahan senyumnya
sendiri.
Mei mengambil tisu dan mengusap ujung matanya. Sambil
membetulkan topi di kepalanya, serta masih tertawa kecil, ia berkata, “Baiklah
ayo kita cari pengemis itu.”
Ia menoleh ke belakang, berancang-ancang untuk memutar
mobil yang di kendarainya. Lagi-lagi Mei kemudian tertawa, sambil memukul
kemudi dan berkata, “Hampir sepuluh tahun dan aku belum pernah ketawa serupa
ini. Lelaki memang tolol sekali, ya?”
Mei masih tertawa, sepanjang jalan terdengar serupa
gerimis yang sederhana. (*)
No comments:
Post a Comment