Harus
kukatakan, bahwa saat ini aku merasa muak!. Aku merasa muak melihat dan
merasakan ketidak berdayaanku terhadap kemalasan. Bukan saja terhadap ketidak
berdayaan, tetapi juga ketakutan, bahkan bisa di bilang cengeng. Hah! Ingin rasanya
ku melemparkan sesuatu, ingin rasanya ku menghancurkan sesuatu untuk meluapkan
segala emosi karena ketidak berdayaan ini.
Apa
yang dimaksud ketidak berdayaan disini adalah aku masih merasa malas, masih
merasa takut, masih merasa khawatir, dan mungkin ada yang lebih parah aku masih
cengeng. Sedikit-sedikit mengeluh, setelah mengeluh mencaci semua orang yang
tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan diriku sendiri. Ku coba berfikir
berkali-kali, tak jarang di beberapa waktu ku sering melamun. Memikirkan sebuah
masalah yang tidak semestinya ku pikirkan. Rasa-rasanya hidup ini terasa berat
betul, mencoba berlari dengan kaki terpincang. Jangankan berlari, berjalan saja
ku sudah terseok-seok.
Sudahlah!,
sekarang tidak ada lagi dalam prinsip hidupku dengan berkeluh kesah, tidak ada
lagi dalam prinsipku untuk merasa takut, khawatir, dan tidak ada rasa yang
membuatku terjatuh. Mengapa?, karena sudah ada yang menjamin diriku, yaitu
Allah Swt. Ku tidak perlu berkeluh kesah, karena Allah tidak serta merta membuat
suatu keadaan lebih buruk, atau menurunkan ujian di luar batas kemampuan
hambanya. Ku tidak perlu lagi takut akan rizki yang sudah ditetapkan oleh
Allah, karena ku yakin Allah memberi rezeki yng luar biasa untuk diriku. Ku
tidak perlu khawatir lagi jika semua usaha yang telah ku lakukan akan gagal,
karena Allah pun akan memberikan keberhasilan untukku. Dan semua rasa, baik
dari perilaku yang bersifat buruk, tidak akan pernah lagi ada dalam diriku
sendiri. Karena aku diciptakan dan dilahirkan ke dunia ini hanya untuk
kebaikan. Berniat suci, berprasangka baik, berperilaku baik, berbuat baik,
berucap baik, dan semua anggota, jiwa dan ragaku hanya untuk kebaikan. Dan
tidak akan ada, dan takkan pernah ada keburukkan. Karena itu bukan diriku!!!
Bagaimana
memulai itu semua?. mungkin satu pertanyaan ini cukup menarik, atau mungkin
membuatmu ragu untuk menghilangkan semua itu. tidak!, katakan sekali lagi pada
dirimu sendiri tidak!!!. Tidak ada yang bisa membuatku ragu, ataupun merasa
lemah untuk menghilangkan kebaikan. Aku yakin, Allah memberiku kekuatan,
memberiku semangat yang tidak pernah padam. Karena Allah adalah tuhanku, dan
nabi muhammad nabiku, Al-Qur’an pedomanku, dan aku diciptakan untuk menjadi
orang yang sholeh dan bertaqwa.
Pertama-tama,
semua tindakan harus di dasarkan dengan niat yang suci. Terhindar dari semua
sifat buruk, atau tidak ada sedikit pun sifat buruk yang mencampuri niat suci.
Niat yang benar-benar suci dapat terlihat pada akhir dari semua tindakan. Entah
baik, atau tidak semua tergantung niat. Niat yang suci itu berlandaskan pada
sebuah pijakkan kebenaran dan kebaikan. Dan yang paling utama adalah niat itu
berlandaskan mengharap ridho dari Allah Swt. Mengharap pahala atau tidak, itu
adalah urusan nanti. satu hal terpenting adalah niat hanya mengharap ridho
kepada Allah selaku pemilik dan pencipta semesta Alam ini.
Kedua,
adalah selalu berprasangka baik kepada Allah, dan kepada siapapun. Satu
prasangka baik menghapus semua prasangka buruk meski prasangka itu coba
digoyahkan oleh sifat buruk. Jika yakin itu baik, maka semua akhirnya akan
menjadi baik. Namun jika berfikir buruk maka semua akan berakhir menjadi buruk.
Terlepas berakhir buruk atau tidak, semua tergantung niat yang full dan yakin
sepenuh hati semua akan menjadi berakhir baik. Dan juga dari niat dan bekerjan
penuh totalitas.
Ketiga,
berperilaku baik. Penilaian orang lain terhadap diri kita sendiri adalah dari
perilaku kita. Santun dan sopan, tutur kata yang halus membuat indah perangai
setiap insan. Nabi muhammad adalah panutan bagi setiap manusia. Keindahan
perilaku, tutur kata yang lembut, dan hati yang lembut seperti sutra, atau
bahkan lebih lembut dari itu. semua perilaku tidak ada yang buruk, hanya saja
berlebihan. kita mengetahui, berbicara kotor itu merupakan perilaku yang tidak
baik. Namun ada sebagian orang menganggap tanpa berbicara kotor dan kasar, itu
bukan laki-laki. Ah!, sudahlah tidak usaah di bahas toh itu merupakan pendapat
orang lain. pokok baik atau buruk kita punya penilaian masing-masing. Yang
terpenting kan sudah ada panutan dan suri tauladan : nabi Muhammad SAW. Untuk apa mencari panutan lain???
No comments:
Post a Comment