Tuesday, January 28, 2014

Senja Penghilang Resah

Bibir tak mampu berkata, mata tak sanggup beralih, hati tak henti-hentinya bertasbih. matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Terpancar seulas tersenyum ketika ingin tenggelam. Memberikan senyum termanis, atau memang tetap tersenyum manis di saat tenggelam. Meski bumi mulai rapuh, kawasan industri menjamur, asap membumbung tinggi meracuni langit, hutan sedikit demi sedikit mulai gundul, namun matahari tetap menunjukkan senyum indahnya. Tetap memberikan sinar semangat kepada setiap manusia. Dan itulah matahari. Desiran ombak mengiringi, tak ingin ditinggal pergi oleh senyuman mentari ombak-ombak dilautan terus bergelombang. Angin berhembus menemani ombak, merasakan kesedihan ombak yang ditinggal pergi oleh senyuman manis sang mentari.
Ombak menghempas, menyapu semua keresahan hati. membawa semua resah itu ketengah lautan, dan tenggelam di dasar laut selat sunda. Pertemuan dua gelombang dari dua samudera. Hindia dan pasifik. Air laut dingin dengan panas, sekaligus menjadi saksi bisu teriakan dahsyat gununng krakatau. Teriakan yang memisahkan dua pulau, terdengar hingga ujung belahan dunia sana. Abu vulkanik, dan awan panas menutupi langit. Dan tak sedikit orang tewas atas kejadian alam itu. setelah berabad-abad silam, kenangan buruk itu telah berlalu. Bayang-bayang kelam itu tenggelam oleh asap, meski terkadang muncul namun bayang itu takkan pernah menghampiri. Akibat ledakan itu, terpisahnya dua pulau dan kini menjadi jalur perdagangan laut paling padat. Teriakkan dahsyat itu menjadi keuntungan bagi manusia yang hidup zaman sekarang. Meski harus memakan ratusan juta anak manusia.
Ah!, sudahlah. Saat ini adalah saat untuk menghilangkan semua kegundahan, biarkan semua terhanyut terbawa ombak dan tenggelam hingga dasar samudera. Karena ku takkan pernah mengingat semua itu. (*)

(**)
            Mesin-mesin menderu, bak seperti raungan binatang-binatang marga satwa kelaparan.

No comments:

Post a Comment