Bibir
tak mampu berkata, mata tak sanggup beralih, hati tak henti-hentinya bertasbih.
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Terpancar seulas tersenyum ketika ingin
tenggelam. Memberikan senyum termanis, atau memang tetap tersenyum manis di
saat tenggelam. Meski bumi mulai rapuh, kawasan industri menjamur, asap
membumbung tinggi meracuni langit, hutan sedikit demi sedikit mulai gundul,
namun matahari tetap menunjukkan senyum indahnya. Tetap memberikan sinar
semangat kepada setiap manusia. Dan itulah matahari. Desiran ombak mengiringi,
tak ingin ditinggal pergi oleh senyuman mentari ombak-ombak dilautan terus
bergelombang. Angin berhembus menemani ombak, merasakan kesedihan ombak yang
ditinggal pergi oleh senyuman manis sang mentari.
Ombak
menghempas, menyapu semua keresahan hati. membawa semua resah itu ketengah
lautan, dan tenggelam di dasar laut selat sunda. Pertemuan dua gelombang dari
dua samudera. Hindia dan pasifik. Air laut dingin dengan panas, sekaligus
menjadi saksi bisu teriakan dahsyat gununng krakatau. Teriakan yang memisahkan
dua pulau, terdengar hingga ujung belahan dunia sana. Abu vulkanik, dan awan
panas menutupi langit. Dan tak sedikit orang tewas atas kejadian alam itu.
setelah berabad-abad silam, kenangan buruk itu telah berlalu. Bayang-bayang
kelam itu tenggelam oleh asap, meski terkadang muncul namun bayang itu takkan
pernah menghampiri. Akibat ledakan itu, terpisahnya dua pulau dan kini menjadi
jalur perdagangan laut paling padat. Teriakkan dahsyat itu menjadi keuntungan
bagi manusia yang hidup zaman sekarang. Meski harus memakan ratusan juta anak
manusia.
Ah!,
sudahlah. Saat ini adalah saat untuk menghilangkan semua kegundahan, biarkan
semua terhanyut terbawa ombak dan tenggelam hingga dasar samudera. Karena ku
takkan pernah mengingat semua itu. (*)
(**)
Mesin-mesin menderu, bak seperti
raungan binatang-binatang marga satwa kelaparan.
No comments:
Post a Comment